Cari Blog Ini

Jumat, 09 Mei 2014

Pakaian di Bawah Mata Kaki ( nglembreh )

Sobat muslim masikah anda di cemooh, diledek dan dihina ?. Tidak usah berkecil hati kita yang paham dan tau hukumya berpakaian diatas mata kaki libih takut masuk Neraka di banding cuma memikirkan omongan mereka. Dengan berpakaian cingkrang kita masih bisa bergaya dan tentunya tidak kalah dengan artis-artis top papan atas dunia.
Peringatan bagi kaum Mu’min laki-laki agar tidak memanjangkan (nglembrehno = Jawa) pakaiannya sampai menutup mata kaki.
إِزْرَةُ الْمُؤْمِنِ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ ,
“Pakaian mukmin sampai separoh betis”, demikian sabda Nabi tertulis dalam Hadist Ibnu Majah No. 3573 Kitabullibas.
Apabila pakaian Muslimah harus menutup mata kaki tapi Allah murka pada laki-laki yang memanjangkan pakaiannya sampai menutup mata kakinya. Pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat pada orang yang nglembrehno pakaiannya, celana, sarung, baju qomis dan sebagainya hingga menutupi mata kakinya.

Lebih tegas lagi Rasulullah s.a.w. mengancam orang beriman yang pakaiannya menutupi mata kaki: “Apa-apa yang di bawah mata kaki maka ke NERAKA!”.
3569 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، ح وحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ، جَمِيعًا عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ الَّذِي يَجُرُّ ثَوْبَهُ مِنَ الْخُيَلَاءِ، لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
__________
[حكم الألباني] صحيح
… sesungguhnya Rasulalloh s.a.w bersabda: “Sesungguhnya orang yang memanjangkan pakaiannya sampai mata kaki, Allah tidak melihat padanya pada hari kiamat”.
3571 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: مَرَّ بِأَبِي هُرَيْرَةَ فَتًى مِنْ قُرَيْشٍ يَجُرُّ سَبَلَهُ، فَقَالَ: يَا ابْنَ أَخِي إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ مِنَ الْخُيَلَاءِ، لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
__________
[حكم الألباني] حسن صحيح
… Abi hurairah meriwayatkan: “Seorang pemuda Quraish lewat di depan Abi Hurairah, ia melembrehkan pakaiannya, Maka Abi Hurairah berkata: “ Wahai saudaraku, sesungguhnya saya mendengar Rasulallah s.aw. bersabda: “Barang siapa melembrehkan pakaiannya termasuk sombong, Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat”.
3572 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ مُسْلِمِ بْنِ نُذَيْرٍ، عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَسْفَلِ عَضَلَةِ سَاقِي – أَوْ سَاقِهِ – فَقَالَ: «هَذَا مَوْضِعُ الْإِزَارِ، فَإِنْ أَبَيْتَ فَأَسْفَلَ، فَإِنْ أَبَيْتَ فَأَسْفَلَ، فَإِنْ أَبَيْتَ فَلَا حَقَّ لِلْإِزَارِ فِي الْكَعْبَيْنِ» …
__________
[حكم الألباني] صحيح
… Hudhaifah meriwayatkan: Rasulullah s.a.w. mengenakan pakaian di bawah daging betisnya – maka beliau bersabda: Inilah posisi pakaian, jika keberatan boleh lebih bawah, jika keberatan boleh lebih bawah lagi, jika masih keberatan maka jangan sungguh-sungguh pakaian pada mata kaki”.
3573 – حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قُلْتُ لِأَبِي سَعِيدٍ: هَلْ سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا فِي الْإِزَارِ؟ قَالَ: نَعَمْ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِزْرَةُ الْمُؤْمِنِ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ، لَا جُنَاحَ عَلَيْهِ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ، وَمَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فِي النَّارِ» . يَقُولُ ثَلَاثًا: «لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا»
__________
[حكم الألباني] صحيح

… saya (Abdirohman bertanya pada ayahku Said: Adakah ayah mendengar sesuatu dari Rasulillah s.a.w. sesuatu tentang pakaian? Said menjawab: “Ya, saya mendengar Rasulalloh s.a.w bersabda: “Pakaian Mu’min sampai separoh betis, tidak dosa baginya diantara betis dan dua mata kaki, apa-apa yang di bawah mata dua mata kaki ke neraka”. Nabi bersabda tiga kali: “Allah tidak melihat pada orang yangmelembrehkan pakaiannya karena itu sombong”.

Sabtu, 29 Maret 2014

Menjual Kesedihan "Penjilat"



Sobat kita beruntung lahir dan besar di Negara Indonesia. Negara yang terkenal mempunyai unggah ungguh tata krama dan sopan santun tingkat tinggi. Karena inilah sifat unggulan penduduk bangsa Indonesia yang konon dikagumi oleh bangsa dan negara lain. Sadar atau tidak ini menjadi nilai lebih buat kita.

Semua itu terbukti dalam setiap peristiwa semisal dalam pemilihan presiden, Indonesia idol atau dalam kontes-kontes yang sifatnya poling. Mereka berlomba menunjukan pribadi yang sholehah…

Dalam pemilihan pemimpin seperti kepala daerah atau kepala pemerintahan sudah tidak diragukan lagi. Pengalaman yang terjadi di Negara kita orang yang sedikit dalam tekanan penguasa atau apalah namanya pasti akan mendapatkan simpati yang luar biasa. Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh para calon kontestan untuk mendapatkan simpati dengan menjual kesedihan seolah olah mereka teraniaya atau mengalami kehidupan yang getir. Kalau kita pernah melihat kompetisi yang sifatnya mencari bakat seperti Indonesia idol tidak sedikit para kontestas menceritakan pengalaman hidupnya bila perlu dengan menangis dengan tujuan mendapatkan belas kasian dari juri atau pendukungnya. Wallahu a’lam…….

Bagaimana kalau kita menjumpai prilaku tersebut di lingkungan kerja ? Apalagi yang melakukan itu rekan kerja kita. Sudah pasti kita merasa dongkol atau kecewa. Biasanya orang yang berprilaku seperti itu menurut pengalaman yang saya alami mempunyai sifat sedikit penjilat atau cari muka. Tapi memang sesungguhnya ada orang seperti itu, yang memang benar-benar mempunyai latar belakang yang memprihatinkan dalam perjalanan hidupnya. Orang seperti itu biasanya mempunyai semangat kerja yang tinggi dan loyal terhadap perusahaan tanpa harus menghiba atau memohon belas kasian.

Untuk orang yang gemar menjual kesedihan di depan atasanya dengan maksud mendapatkan simpati ini yang bisa digolongkan “cari muka atau penjilat”. Dia selalu bercerita tentang perjalanan hidupnya yang mengenaskan baik itu masa kecil, keluarga hingga dikhianati teman. 

Rasullullah SAW bersabda, “Menjilat bukanlah termasuk karakteristik moral seorang mukmin.” (Kanzul Ummat, hadits 29364). Budaya menjilat bukan budaya seorang mukmin. Bahkan, sebenarnya budaya ini lebih dekat pada karakter seorang munafik.

Seorang penjilat sejatinya sedang membohongi dirinya sendiri. Apa yang dilakukannya berlawanan dengan lubuk hatinya yang paling dalam. Ia rela melakukan apa saja secara berlebihan demi mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang yang dijilatnya. Biasanya yang menjadi korban penjilat adalah mereka yang tergolong mapan dan superior, seperti atasan, pimpinan, pemegang kekuasaan dan keputusan.

Sebagaimana kisah tersebut, Yunus bin Ya’qub menjilat pemimpin agamanya, agar dengan cara itu ia mendapatkan pengakuan ketaatan dan ketulusan dari pemimpinnya. Namun, sayangnya, ia berhadapan dengan seorang pemimpin yang bukan hanya tidak mau dijilat, tapi juga melarang segala bentuk penjilatan.

Lalu mengapa Islam melarang budaya menjilat?? Menjilat adalah salah satu bentuk kehinaan. Padahal, Islam datang menjunjung tinggi kemulian dan kehiormatan manusia. Sedangkan penjilat berusaha menghinakan dirinya dan merobohkan harkat dan martabat manusia yang dibangun Islam.
Terkadang, budaya menjilat ini timbul karena kesalahpahaman terhadap makna dan pengertian tawadhu (rendh hati). Misalnya, seorang bawahan merasa perlu memuji atasannya setinggi langit demi menunjukkan loyalitasnya terhadap sang atasan. Ironis sekali kalau sang atasan mengangguk-anggukkan kepalanya alias mengamini dengan berbagai pujian itu. Sementara hal yang dijadikan bahan pujian bawahannya itu sebenarnya tidak terjadi.

Dengan demikian, atasan ini telah membiarkan kebohongan dan kepura-puraan terhadap dirinya terus berlangsung. Sesuatu yang tidak ada pada dirinya terus berlangsung. Sesuatu yang tidak ada pada dirinya dikatakan ada. Bukankah ini dusta yang besar?? Bukankah ini hal yang terlarang. Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, ”Memuji lebih dari yang seharusnya adalah penjilatan.” (Nahjul Balaghah, hikmah 347). Karena itu, hindari sejauh mungkin segala tindakan yang menjurus ke arah penjilatan.
Makanya bagi sobat-sobat semua tidak usah berprilaku munafik, biarlah apa adanya Alloh tau semua isi unek-unek dalam hatimu, kalau seperti itu namanya para sobat kurang bersyukur..seperti firman Alloh SWT..

“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).” (QS.27:73)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

Lagian kalau kita mendapatkan rejeki dengan cara menjelek-jelekan rekan kita atau dengan prilaku buruk Alloh punya pesan dalam firmanya,

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS. 2:172)

Dan apabila para sobat menjadi bos berprilakulah yang bijak jangan termakan dengan rayuan bawahanmu yang penuh kebohongan.. Tentunya sebagai pimpinan taulah karakter masing-masing bawahan. Gunakan naluri dan instingmu…

Sabtu, 01 Februari 2014

Berteman Dengan Orang yang Selalu CARI MUKA

Dalam lingkungan kerja pasti ada aja prilaku rekan kerja kita yang mempunyai sifat penjilat. Kita sangat dibuat jengkel dengan ulahnya. Kadang baik, tapi tak jarang juga menjatuhkan tanpa tahu sebabnya.

Beragam orang berarti beragam pula karakter yang akan kita temukan. Begitu pula dalam dunia kerja. Tuntutan perusahaan tidak jarang membuat satu karakter dengan karakter yang lain sulit dipertemukan. Padahal agar kita dapat bekerja secara tim, kita harus saling mengenal dan beradaptasi dengan karakter rekan kerja kita. “Setiap individu itu unik, agar kompak kita juga harus bisa menyesuaikan diri kita dengan lingkungan.

Tidak dapat dipungkiri,terkadang dalam sebuah kinerja terdapat karakter yang menguras emosi kita. Misalkan, karakter orang yang selalu “mencari muka” dan ingin menang sendiri.  Orang seperti itu mempunyai sifat suka menjatuhkan teman, baik secara diam-diam atau bahkan blak-blakan.

Bagi orang yang kurang smart, menjatuhkan rekan kerja yang dianggap saingan dilakukan secara terang-terangan, yaitu langsung ngoceh di depan atasan tentang kesalahan ataupun kekurangan kita. Cara itu akan membuatnya sedikit lega karena telah berhasil “cari muka” di depan si bos. Sifatnya yang selalu mencoba menonjolkan diri secara terang-terangan, membuat kita lebih mudah mengenal siapa dia.

Rekan kerja yang punya hoby menjatuhkan teman disebabkan karakter yang sudah melekat. Atau mungkin sikap itu muncul karena adanya kesempatan ataupun keterpaksaan akibat ketatnya persaingan. Mereka cenderung ingin mendapatkan hasil segera (bisa jadi kurang tekun dan gigih). Rasa kurang percaya diri dan iri melihat kemampuan lebih rekan lain bisa jadi yang memicu seseorang untuk melakukan tindakan tidak kompetitif itu. ”Pastinya, dia tidak mampu bersaing secara sehat sehingga dia memilih jalan itu.

Dalam bekerja, komunikasi yang baik dan terbuka terhadap masukan/feedback baik dari rekan kerja ataupun atasan perlu dikembangkan. Kalaupun muncul kondisi lingkungan kerja yang saling menjatuhkan, itu karena iklim di perusahaan yang kurang kondusif. Semua itu tidak akan tenjadi jika pimpinan bisa mengenali anak buah dengan baik, yaitu dengan memberi feedback untuk setiap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak buah serta memberikan kesempatan untuk memperbaikinya. Selain itu, adanya kejelasan kebijakan kriteria karyawan yang baik dan kapan kenaikan pangkat/gaji dapat menghindarkan munculnya sikap saling menjatuhkan.

Tidak perlu menguras energi dan emosi, jika kita terpaksa berhadapan dengan orang yang hoby menjatuhkan. Bagaimanapun jika kita optimal mengerjakan segala sesuatunya dan hubungan kita dengan rekan kerja baik, orang juga akan tahu siapa yang benar dan siapa yang salah" katanya. Jadikan itu sebagai pengalaman, mungkin saja dan kejadian tensebut kita menemukan kekurangan kita yang ternyata dianggap sebagai hal penting olehnya.

Jika kebenaran telah ditegaskan akan menjadi kemenangan yang abadi, jangan ragu untuk tetap bertahan. Nah, kalau memang kita terpaksa harus berhadapan dengan sosok orang yang hoby bersaing secara tidak kompetitif, tidak perlu membuat kita meninggalkan prinsip kita dan menyerang balik lawan kita. Tetaplah kita menjadi diri kita sendiri dengan tetap berprinsip professional, tenang jangan terpancing emosi. Dan harus berani mengkrarifikasikan secara personal dengan atasan atau mungkin rekan kerja di mana teman Anda itu berusaha menjatuhkan secara personal dengan bahasa yang netral tanpa berusaha untuk menjatuhkan kembali. Yang terpenting langsung tanyakan ke orang yang ingin menjatuhkan anda dengan baik baik, apakah ada masalah antara dia dengan Anda yang muncul tanpa disadari. Mintalah dia untuk terbuka dan jangan ragu meminta maaf jika Anda telah menyinggung perasaannya. Yang terpenting jangan jadikan musuh atau meminta orang lain untuk memusuhi, tetap jaga hubungan baik. Itu baru orang hebat….

Sabtu, 13 April 2013

Kriteria Islam yang Beraliran Sesat

Sobat..banyak sebagian orang menganggap perbedaan beribadah menjadi hal yang luar biasa. sebetulnya mereka sudah tau, mungkin sedang lupa. Celakanya kalau sudah begitu mereka dengan entengnya menganggap orang yang tidak sama cara ibadahnya dengan dirinya dianggap sebagai aliran sesat. 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sebuah pedoman yang berisi 10 kriteria untuk mengidentifikasi sebuah ajaran dinyatakan aliran sesat.
"Suatu paham atau aliran keagamaan dapat dinyatakan sesat apabila memenuhi salah satu dari sepuluh kriteria," kata Ketua Panitia Pengarah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MUI Tahun 2007, Yunahar Ilyas. 10 kriteria itu antara lain:

1.    Mengingkari rukun iman (Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab Suci, Rasul,          Hari Akhir, Qadla dan Qadar) dan rukun Islam (Mengucapkan 2 kalimat            syahadah, sholat 5 waktu, puasa, zakat, dan Haji).
2.    Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i                  (Alquran dan as-sunah).
3.    Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran.
4.    Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran.
5.    Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir.
6.    Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam.
7.    Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.
8.    Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir.
9.    Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah.
10.   Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i.



Sekretaris Umum MUI Ichwan Sam menegaskan bahwa penetapan kriteria tersebut tidaklah dapat digunakan oleh sembarang orang dalam menetapkan bahwa suatu aliran itu sesat dan menyesatkan. "Ada mekanisme dan prosedur yang harus dilalui dan dikaji terlebih dahulu. Harus diingat bahwa tidaklah semudah itu dalam mengeluarkan fatwa," kata Ichwan.

Di dalam pedoman MUI tersebut dinyatakan, sebelum penetapan kesesatan suatu aliran atau kelompok terlebih dahulu dilakukan penelitian dengan mengumpulkan data, informasi, bukti dan saksi, tentang paham, pemikiran, dan aktivitas kelompok atau aliran tersebut oleh Komisi Pengkajian.
Setelah itu, Komisi Pengkajian akan meneliti dan melakukan pemanggilan terhadap pimpinan aliran atau kelompok dan saksi ahli atas berbagai data, informasi, dan bukti yang telah didapat. Hasilnya akan disampaikan kepada Dewan Pimpinan. Kemudian, bila dipandang perlu, maka Dewan Pimpinan akan menugaskan Komisi Fatwa untuk membahas dan mengeluarkan fatwa.
"Dalam batang tubuh fatwa mengenai aliran sesat juga ada poin yang menyatakan akan menyerahkan segala sesuatunya kepada aparat hukum yang berlaku dan menyerukan agar masyarakat jangan bertindak sendiri-sendiri," kata Ichwan.

Jadi sobat, semua jangan mudah mengatakan kelompok orang yang cara ibadah dan cara berfikir berbeda dikatakan sesat. Intropeksi diri, sudahkah kita melaksanakan ibadah dengan tertib dan tidak melakukan bid'ah, syirik dan sebagainya...???

Minggu, 24 Februari 2013

Memotivasi Diri Sendiri

Sering kita picik, terkungkung dalam tembok yang sempit ketika menghadapi cobaan, menganggap ini adalah akhir. Padahal jika kita telaah lebih jauh, mungkin Alloh SWT sedang mempersiapkan sesuatu untuk kita. Sesuatu yang terbaik untuk kita, bukan yang menurut kita baik. Sesuatu itu bisa sekarang, bisa juga nanti.
Saya sangat bersyukur di lahirkan dari seorang wanita Muslim dan mempunyai Orang Tua yang taat ibadah dan di kelilingi oleh saudara-saudara muslim yang taat pula. Dan ketika mendapat musibah seberat apapun saya tidak merasa sendiri.

Beberapa hari terakhir ini pun aku mengalami apa yang sudah menjadi ketetapan Allah, sebuah ujian. Ujian mengenai seberapa besar rasa cintaku padaNya, sebuah ujian tentang tawakal dan kesabaran, sebuah ujian mengenai selalu berhusnudzon padaNya.

Ya Allah, aku yakin, engkaulah pengatur hidup hamba. Karena itu, hamba percaya bahwa apapun yang menimpa hamba saat ini adalah bagian dari rencanaMu yang pasti berbuah kebaikan bagi hamba. Aamiin.
Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mengatasi kegundahan hatinya. Secara pribadi, saya lebih menyenangi cara mengatasi kesedihan itu dengan mencoba menjadi lebih berguna bagi orang lain. Salah satunya adalah dengan menyemangati orang lain, ini bukan sok munafik tapi lebih kepada usaha melawan tekanan batin. Entahlah, ketika akhirnya bisa membuat orang tersenyum dan bersemangat, bisa menjadikan diri ini semangat pula.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa saja yang terasa berat ketika menghapi musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku. Ia akan merasa ringan menghadapi musibah tersebut.”[2] Ternyata, musibah orang yang lebih sholih dari kita memang lebih berat dari yang kita alami. Sudah seharusnya kita tidak terus larut dalam kesedihan.

Salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa.
[Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” Ketika, Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut do’a sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[10]

Do’a yang disebutkan dalam hadits ini semestinya diucapkan oleh seorang muslim ketika ia ditimpa musibah dan sudah seharusnya ia pahami. Insya Allah, dengan ini ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik.

Saya menghibur diri sendiri ketika kehilangan, ketika menyesal, ketika kecewa. Meskipun itu tidak akan bisa merubah keadaan, tapi setidak-tidaknya itu membuat saya lebih baik_kadang-kadang. Membuat saya berusaha menggali sisi positif dari hal-hal buruk. Karena kekerdilan jiwa kita yang terkadang memaknai cobaan sebagai musibah, bukan sebagai pembelajaran, bukan sebagai pembuka anugerah.

Maaf bukanya saya sok jago tapi yah itulah saya sendiri bingung mengartikan diriku sendiri untuk yang ini…

Kamis, 31 Januari 2013

Ketika Merasa Gagal dan Terbuang

Sobat pernahkan kamu merasa kalut hatinya hancur perasaanya, bingung harus berbuat apa dan bagimana ?. Akibat menghadapai fakta yang pilu atau merasa “habis” karena apa yang kamu usahakan dan impikan kandas di tengah jalan tanpa menyisakan hasil yang maksimal? Pergilah sudah segala asa yang pernah membumbung tinggi di angkasa. Berganti dengan keterpurukan yang tidak berkesudahan?

“Ya sudahlah….” Itulah mungkin pesan yang pernah kamu dengar. Tapi, apakah sedangkal itu kita akan menghadapi hidup ini? Hidup ini butuh keringat, kesungguhan, dan juga air mata. Butuh energi untuk berlari dan melesat lebih baik lagi. Bila kini jatuh, maka sadarlah bahwa ini adalah awal untuk mendewasakan hidup. Bila merasa ditinggalkan, ingatlah bahwa hidup ini belum seberapa dibandingkan ujian hidup yang sebenarnya.

Yah….bulan ini adalah bulan yang terburuk yang ku alami. Tetapi saya tidak boleh cengeng saya harus bangkit dan menatap jauh ke depan Alloh punya rencana baik buat saya. Saya tidak butuh pelarian, tidak pula butuh pelampiasan. saya hanya butuh kembali pada Allah. Menikmati setiap masa kebersamaan dengan-Nya dan kemudian merasa nyaman saat beribadah kepada-Nya.

Usia yang masih cukup tidak akan menghalangi keinginan untuk menjadi dewasa. Saat jatuh  tidak membutuhkan uluran tangan menuju kemaksiatan. Atas nama membalas dendam terhadap nasib yang menimpaku. dan juga tidak perlu memaki-maki siapa saja yang ku anggap bertanggung jawab terhadap hidupku. Juga tidak perlu menganggap Allah tidak adil, karena telah mengambil nasib baikku . Saya hanya perlu lebih bersyukur atas nikmat yang ku dapat. Jangan sampai larut dalam kesedihan yang menyengsarakan.

Hidup ini adalah pembuktian kata-kata. Kalau saat ini sedih, terluka dan terbuang, maka itu adalah awal dari proses perbaikan. Berdirilah tegap menghadapi masalah yang menimpa. Jangan pernah merasa sendiri dan ditinggalkan. Karena Allah tidak akan meninggalkan sendirian. Saya hadapi dengan semangat hidup yang baik. Pelajari setiap pengalaman hidup yang telah kualami. Jadikanlah itu sebagai cara terbaik untuk bersikap positif. Karena jalan ini memang masih panjang. Usia belum terlalu uzur, tak seharusnya mudah putus asa. Bijaksana dalam bersikap adalah sebuah pilihan yang terbaik. Daripada berpikiran pendek dan mendahulukan nafsu dan ego pribadi di berbagai kesempatan.

Lihatlah anak-anak muda di generasi terdahulu, seperti Musa muda yang sangat tabah dalam hidupnya. Kecil dihanyutkan di sungai dan akhirnya menjadi keluarga istana. Hingga akhirnya dia harus berdakwah dan berjuang demi membela agama-Nya. Lihatlah si kecil Muhammad saw yang dengan gigih mengobarkan semangat perjuangan untuk tegaknya Islam.

Saya harus mengganti kesedihan dengan kebahagiaan dari Rabb-mu. Dengan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang luar biasa. Rejeki yang tiada terkira. Jangan hanya menganggap rejeki cuma sebatas uang. Teman, sahabat, keluarga adalah rejeki yang tiada terkira besarnya. Syukurilah itu semua, maka kita akan menjadi Orang yang lebih bahagia dari sebelumnya. Jangan kecut, jangan ciut, semangat harus bangkit dari kesedihan. Karena malam tidak akan selamanya malam. Pasti ada pagi dengan mentari yang bersinar terang.

Itulah sedikit curahan hati kita mengalami kegagalan…

Jumat, 10 Agustus 2012

Manusia di Usia 40 Tahun

Saya merenung, sebentar lagi saya menginjak usia 40 tahun pikiranku menerawang jauh ke tempat yang tidak jelas arahnya. Dalam benak saya apa yang telah saya dapat di usia tersebut untuk ukuran kesuksesan dunia relatife, minimal cukup tidak mengalami kesulitan material, untuk ukuran agama ? saya hanya  diam merenung…. Apakah ini bentuk frustasi saya karena masalah pekerjaan yang sangat tidak menentu ? tapi saya anggap itu hal biasa.

Andai jatah hidup saya 60 tahun, berarti sisa hidup saya sangatlah sedikit. Duh! Betapa singkatnya hidup ini. Jika demikian, betapa tidak akan terasa menjalani sisa hidup yang lebih pendek lagi; 20 tahun, 12 tahun, 2 tahun, atau malah cuma dua hari lagi. Kalau selama ini di habiskan hanya untuk keperluan dunia dari fajar hinggi terbenamnya matahari atau bahkan lebih. Dan selebihnya untuk mencari bekal akherat kelak, itupun tidak selalu rutin, oh.. celakalah saya..

Usia 40 tahun banyak orang menganggap usia yang matang dan batas seseorang untuk memperoleh kesuksesan. Di usia tersebut manusia telah menjalani setangah perjalanan hidup yang di gariskan. Seandainya di usia tersebut hidup seseorang masih biasa biasa saja berarti orang tersebut bisa di sebut gagal, tetapi seandainya orang tersebut mendapatkan materi yang lebih dari cukup berarti secara dunia orang tersebut mengalami kesuksesan. Demikian juga dengan untuk urusan Agama, apa yang telah di dapat dari usia 40 tahun tentang urusan Agama (akherat) ? yang tau hanya kita sendiri.

Mengapa umur 40 tahun begitu penting? Dalam tradisi Islam, usia manusia diklasifikasikan menjadi 4 (empat) periode, yaitu 1) periode kanak-kanak atau thufuliyah, 2) periode muda atau syabab, 3) periode dewasa atau kuhulah, dan 4) periode tua atau syaikhukhah. Periode kanak-kanak itu mulai lahir hingga baligh, muda mulai dari usia baligh sampai 40 tahun, dewasa usia 40 tahun sampai 60 tahun, dan usia tua dari 60-70 tahun.

Dengan demikian usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa mudanya dan beralih menapaki masa dewasa penuh yang disebut dengan usia dewasa madya (paruh baya) atau kuhulah. Pakar psikologi Elizabet B. Hurlock,  mengatakan “masa dewasa awal” atau “early adulthood” terbentang sejak tercapainya kematangan secara hukum sampai kira-kira usia 40 tahun. Selanjutnya adalah masa setengah baya atau “middle age”, yang umumnya dimulai pada usia 40 tahun dan berakhir pada usia 60 tahun. Dan akhirnya, masa tua atau “old age” dimulai sejak berakhirnya masa setengah baya sampai seseorang meninggal dunia.

Kejiwaan pada usia 40 tahun ini adalah meningkatnya minat seseorang terhadap agama (religiusitas dan spiritualisme) setelah pada masa-masa sebelumnya minat terhadap agama itu boleh jadi kecil sebagaimana diungkapkan oleh banyak pakar psikologi sebagai “least religious period of life”.

Maka patutlah jika usia 40 tahun tertulis dalam al-Qur’an. Dan karenanya, tidaklah heran jika para Nabi diutus pada usia 40 tahun. Nabi Muhammad saw. diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga dengan nabi-nabi yang lain, mereka diutus menjadi nabi ketika usia mereka genap 40 tahun. kecuali Nabi Isa as. dan Nabi Yahya as.

Di beberapa negarapun, untuk menduduki jabatan-jabatan elit yang strategis, seperti kepala negara, disyaratkan harus telah berusia 40 tahun. Seperti, Soekarno menjadi presiden pada usia 44 tahun. Soeharto menjadi presiden pada umur 46 tahun. J.F. Kennedy 44 tahun. Bill Clinton 46 tahun. Paul Keating 47 tahun. Sementara Tony Blair 44 tahun.

Keistimewaan usia 40 tahun tercermin dari sabda Rasulullah saw.,

العَبْدُ الْمُسْلِمُ إِذَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً خَفَّفَ اللهُ تَعَالَى حِسَابَهُ ، وَإِذَا بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً رَزَقَهُ اللهُ تَعَالَى الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ ، وَإِذَا بَلَغَ سَبْعِيْنَ سَنَةً أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، وَإِذَا بَلَغَ ثَمَانِيْنَ سَنَةً ثَبَّتَ اللهُ تَعَالَى حَسَنَاتِهِ وَمَحَا سَيِّئَاتِهِ ، وَإِذَا بَلَغَ تِسْعِيْنَ سَنَةً غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وَشَفَّعَهُ اللهُ تَعَالَى فِى أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَكَتَبَ فِى السَّمَاءِ أَسِيْرَ اللهِ فِى أَرْضِهِ – رواه الإمام أحمد

Seorang hamba muslim bila usianya mencapai empat puluh tahun, Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai enam puluh tahun, Allah akan memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepada-Nya. Bila usianya mencapai tujuh puluh tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai delapan puluh tahun, Allah akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai sembilan puluh tahun, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang belakangan, Allah juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya, serta Allah akan mencatatnya sebagai “tawanan Allah” di bumi. (H.R. Ahmad)

Dan Allah Ta'ala mempertegas lagi dalam firmanya,  

حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri"." (QS. Al-Ahqaf: 15).

Ayat di atas mengisyaratkan, seseorang yang sudah mencapai umur 40 tahun berarti akalnya sudah sampai pada tingkat kematangan berfikir serta sudah mencapai kesempurnaan kedewasaan dan budi pekerti. Sehingga secara umum, tidak akan berubah kondisi seseorang. Saat sudah menginjak usia 40 tahun hendaknya seseorang mulai meningkatkan rasa syukurnya kepada Allah SWT juga kepada orang tuanya.

Nah bagi kita kita yang sebentar lagi atau sudah atau mungkin juga telah melampaui usia tersebut, sudah sepantasnyalah intropeksi diri, apa yang telah kita capai diusia 40 tahun. Jangan lantas bangga atau bahkan merasa rugi karena belum mencoba merasakan bermacam kemaksiatan yang ada di dunia. Justru harusnya digenjot lagi untuk selalu beramal sholeh, untuk bekal nanti dari kehidupan selanjutnya.. sory bukan gue sok jago….