Cari Blog Ini

Senin, 20 September 2010

Arti Bulan Syawal

.
Setelah kita berlebaran dengan melakukan silahturahmi kesesama saudara, kerabat, teman. Bahkan melakukan perjalanan pulang kampung atau mudik, masih ada amalan yang tidak kalah menariknya, yaitu puasa enam hari yang sering disebut pasa syawalan. Syawal dikatagorikan merupakan bulan kemenangan bagi orang yang berjaya menghayati Ramadhan. Hari kemenangan atau hari raya, itu adalah augerah Allah buat hambaNya yang bersyukur. Orang yang berjaya, akan menerima anugerah dari Allah SWT di akhirat kelak Rasulullah telah bersabda:

”Hendaklah kamu bersungguh-sungguh pada hari raya Fitri ini melakukan sedekah, melakukan segala bentuk kebaikan dan kebajikan seperti melakukan sholat, berzakat, bertasbih, bertahlil karena sesungguhnya hari ini adalah hari yang Allah mengampunkan dosa-dosa kamu dan Allah SWT melihat pada kamu dengan rahmat.”

Hadist lain menjelaskan :

”Apabila tiba hari raya Fitrah, Allah SWT telah mengutuskan para malaikat, maka mereka pun turun di seluruh negeri, di seluruh pelosok dunia. Maka mereka pun berkata: Wahai umat Muhammad hendaklah kamu keluar kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Maka apabila mereka umat-umat Muhammad itu keluar kepada tempat solat mereka, lantas Allah SWT berfirman: Hendaklah kamu saksikan wahai para malaikat-Ku. Sesungguhnya Aku telah jadikan pahala mereka itu di atas puasa mereka sebagai keredhaan Ku dan keampunan dari Ku.”

Dari dua hadis ini, dapat mengetahui bahwa anugerah Allah kepada mereka yang berjaya menempuh Ramadhan ialah kedatangan Syawal yang membawa beberapa manfaat di antaranya: mendapat ampunan, do’anya diterima, mendapatkan rahmatNYA dan mendapatkan keridhoan Allah SWT.

Anugerah adalah yang paling besar untuk seseorang mukmin. Apabila mereka mendapat anugerah-anugerah ini dapat dimaknai mereka mendapat jaminan segala amalannya diterima oleh Allah, jaminan kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat dan mendapatkan bantuan Allah di dunia dan di akhirat. Merekalah orang-orang yang bertaqwa.

Orang mukmin menyambut Syawal dengan rasa kesyukuran dan terus melakukan amal ibadah dan amal kebaikan demi mengharap keredhaan Allah. Di antara amalan yang di syariatkan pada bulan Syawal ialah puasa enam hari di bulan Syawal, berpuasa setelah sehari menyambut hari raya. Puasa ini dibolehkan dikerjakan secara berturut-turut enam hari atau tidak asalkan dalam bulan Syawal. Banyak keistimewaannya, sabda Rasulullah :

عن أبي أيوب الأنصارى أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((من صام رمضان, ثم أتبعه ستا من شوال, كان كصيام الدهر)) [رواه مسلم]


"Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian diikuti dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka sama dengan telah berpuasa selama satu tahun" (HR. Muslim).

Hadist lain menjelaskan :

عن ثوبان عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((من صام رمضان, فشهر بعشرة أشهر وصيام ستة أيام بعد الفطر, فذلك تمام صيام السنة)) [رواه أحمد والنسائى وابن ماجه]

Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, maka puasa satu bulan sama dengan puasa sepuluh bulan, ditambah dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka genaplah sama dengan puasa satu tahun" (HR. Ahmad, Nasa'i dan Ibn Majah).

Abu Hurairah berkata: Pahalanya satu tahun, karena setiap hari pahalanya sama dengan puasa sepuluh hari. Tiga puluh hari ramadhan sama dengan tiga ratus hari ditambah enam hari bulan syawal sama dengan enam puluh hari, sehingga jumlah seluruhnya adalah tiga ratus enam puluh hari yakni satu tahun. Hal ini, karena Allah berfirman:

"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya" (QS. Al-An'am: 160)".

Hadis ini menjadi dasar bagi umat Islam untuk mengamalkan puasa sebanyak enam hari di bulan Syawal setelah menunaikan puasa bulan Ramadhan sebulan penuh. Puasa enam hari ini dapat diartikan bahwa sebagai manusia yang menjadi hamba Allah SWT, alangkah baiknya apabila amalan puasa yang diwajibkan kepada kita di bulan Ramadhan itu kita teruskan juga di bulan Syawal walaupun hanya enam hari. Ini seolah menunjukkan bahwa kita tidak melakukan ibadah puasa semata-mata karena ia menjadi satu kewajiban tetapi karena rasa diri kita sebagai seorang hamba yang benar-benar beriman bersungguh-sungguh untuk taqarrub kepada Allah.

Banyak manfaat puasa bulan syawal diantaranya adalah : puasa enam hari pada bulan Syawal pahalanya sama dengan puasa satu tahun penuh sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Dengan puasa enam hari pada bulan Syawal di antara ciri puasa Ramadhannya diterima oleh Allah, karena apabila Allah menerima amal ibadah seseorang, Allah akan memudahkan orang tersebut untuk melakukan amal shaleh lainnya.

Serta puasa enam hari di bulan Syawal di antara cara bersyukur kepada Allah. Orang yang berpuasa Ramadhan berhak mendapatkan ampunan (maghfirah) dari Allah atas segala dosa-dosanya yang telah lalu, dan tidak ada nikmat yang paling berharga selain pengampunan Allah.

Karena itu, mereka yang telah berpuasa Ramadhan patut bersyukur atas nikmat ini, di antaranya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal. "Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, dan supaya kamu bersyukur" (QS. Al-Baqarah: 185).

Dan juga Puasa enam hari pada bulan Syawal, menjadi bukti bahwa kebaikan dan amal shaleh tidak berakhir seiring berlalunya Ramadhan, akan tetapi terus berlanjut selama hidup.

Makna Bulan Syawal

Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramdhan, yang diharapkan dari ibadah itu agar meraih derajat taqwa, maka dengan bersambung Bulan Syawal, maka makna itu terasa, ialah agar terjadi peningkatan. Seolah-olah nama bulan ini mengingatkan bagi siapapun, bahwa seharusnya setelah menjadi bertaqwa maka seseorang atau sekelompok orang harus menampakkan diri, ada peningkatan kualitas hidupnya.

Setidak-tidaknya tatkala memasuki Bulan Syawal, ada harapan agar terjadi peningkatan kualitas, ialah kualitas ketaqwaan bagi mereka yang berpuasa. Jika hal itu ingin dilihat secara nyata, maka akhlak orang-orang yang telah berpuasa menjadi meningkat, orang-orang yang berkesusahan menjadi bisa tersenyum, lantaran persoalan mereka terselesaikan oleh karena munculnya banyak orang yang semakin sadar membayar infaq. Sehingga, memasuki Bulan Syawal kehidupan menjadi semakin lebih baik dan damai, karena dihiasi oleh akhlaq yang mulia, kedekatan dengan Allah, dan juga dengan sesama makhluk. Akhirnya Bulan Syawal menjadi bulan yang sangat indah.

Puasa bukan untuk meningkatkan aspek ekonomi atau kekayaan, namun lebih untuk meningkatkan ketaqwaan. Akan tetapi jika ternyata, setelah memasuki bulan Syawal masjid menjadi sepi kembali, rasa syukur, sabar, ikhlas, dan istiqomah tidak juga meningkat, maka boleh saja dikatakan, bahwa puasa tidak mendapatkan apa-apa. Secara ekonomis tidak meningkat, sedangkan spiritual pun juga tidak bertambah. Sehingga kata syawal hanya sebatas nama bulan itu, dan belum memberikan makna apa-apa, termasuk bagi yang berpuasa. Semogalah kita semua, tidak tergolong sebagai orang yang tidak mendapatkan apa-apa itu. Seharusnya jika mungkin, sebagai kaum muslimin, di Bulan Syawal ini, berhasil mendapatkan dua-duanya, yaitu keuntungan ekonomi, maupun juga derajat taqwa…..amin……….

Sabtu, 04 September 2010

Idul Fitri "Lebaran"

Taqaballahu Minna Waminkum.

Selamat Idul Fitri mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan dan kekhilafan dalam berbagai tulisan saya selama ini, semoga kita menjadi golongan hamba-hamba Allah yang bertaqwa. Amin!

Idul fitri adalah merupakan puncak dari rangkaian ibadah puasa bulan ramadhan, setelah sebulan kita puasa saatnya umat Islam merayakan hari kemengan yang lazim di sebut idul fitri. Idul fitri adalah hari raya yang datang berulangkali setiap tanggal 1 Syawal, yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Artinya kata fitri di sini diartikan “berbuka” atau “berhenti puasa” yang identik dengan makan minum. Maka tidak salah apabila Idul Fitri disambut dengan makan-makan dan minum-minum yang tak jarang terkesan diada-adakan oleh sebagian keluarga.

Tetapi yang lebih penting adalah Idul Fitri seharusnya dimaknai sebagai ‘Kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci‘ sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Kelahiran kembali ini berarti seorang muslim selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.

Arti kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian., yaitu fithrah, berarti suci. Kelahiran seorang manusia, dalam pandangan Islam, tidak dibebani dosa apapun. Kelahiran seorang anak, diibaratkan secarik kertas putih. Kelak, orang tuanya lah yang akan mengarahkan kertas putih itu membentuk dirinya. Di mana pada awal kejadian, semua manusia dalam keadaan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan. Sebuah perjanjian antara manusia dengan Allah yang berisi pengakuan ke Tuhan-nan

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

"(Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”)". (al-A’raf 7 :172)

Idul Fitri arti yang sesungguhnya berarti kembali kepada naluri kemanusiaan yang murni, kembali kepada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak Islami, Inilah makna Idul Fitri yang asli.

Perjalanan hidup manusia tidak bisa luput dari dosa. Karena itu, perlu ada usaha untuk mengembalikan kembali pada kondisi seperti awalnya. Perbuatan dosa yang paling sering dilakukan manusia adalah kesalahan terhadap sesamanya. Seorang manusia dapat memiliki rasa permusuhan, pertikaian, dan saling menyakiti. Idul Fitri merupakan momen penting untuk saling memaafkan, baik secara individu maupun kelompok.

Indonesia yang mempunyai budaya saling memaafkan ini lebih populer disebut halal-bihalal, dan bukan hanya di Indonesia saja tetapi telah menjadi tradisi di negara-negara rumpun Melayu. Ini adalah wujud dari ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang.

Dalam pengertian yang lebih luas, halal-bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari Idul fitri. Keberadaan idul fitri adalah suatu pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan Ramadhan telah berhasil melawan berbagai nafsu hewani, pesta kemenangan idul fitri ini diperuntukkan bagi umat Islam yang telah berpuasa, dan mereka melakukannya dengan dilandasi keimanan.

Yang lebih menarik adalah pada saat Idul Fitri biasanya ditandai dengan adanya ”mudik (pulang kampung)” yang mungkin hanya ada di Indonesia. Selain itu, hari raya Idul Fitri juga kerap ditandai dengan hampir 90% mereka memakai sesuatu yang baru, mulai dari pakaian baru, sepatu baru, sepeda baru, mobil baru. Maklum saja karena perputaran uang terbesar ada pada saat Lebaran. Mudik bukan hanya sekedar hura-hura atau menikmati ramianya di perjalanan tetapi yang terpenting adalah untuk silahturahmi kepada sanak saudara yang ada di kampung tempat mereka dilahirkan.

Itulah betapa pentingnya makna idul fitri atau lebaran bagi Islam terutama umat muslim di Indonesia. Saling memaafkan dan berbuat baik kepada orang lain jangan hanya dilakukan saat Lebaran. Akan tetapi, harus berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Halal-bihalal yang sudah masuk tradisi Indonesia tersebut dapat memberikan gambaran bahwa Islam adalah agama toleran, yang mengedepankan pendekatan hidup rukun. Jangan membanggakan dengan perbedaan.

Kini Ramadhan telah berakhir, seisi alam menangisi kepergian Ramadhan. Rasulullah pun bersabda, “Jika manusia tahu apa yang ada di bulan Ramadhan, maka manusia akan mengharap setiap tahun adalah Ramadhan.” Kepergian ini tidak dapat kita tunda sedetik pun, ia berjalan mengikuti irama waktu yang dimainkan oleh Sang Pencipta. Kita hanya bisa berharap dengan sangat, mudah-mudahan di tahun depan kita bisa bertemu kembali dengan bulan yang penuh barokah, rahmah, dan mahgfirah ini.

Kepergian bulan Ramadhan nan suci ini janganlah diikuti dengan menghilangkan nilai-nilai kebaikan yang telah kita tanam selama bulan Ramadhan. Ramadhan mengajarkan indahnya berbuat baik dan berkata jujur, menghilangkan amarah dan menghiasai jiwa dengan kesabaran, memperbanyak amal kebaikan dan menghilangkan keburukan, dan masih banyak lagi hal positif lainnya.

Ramadhan memang telah berlalu, namun kita usahakan agar nilai-nilai, sikap, dan perbuatan baik yang kita lakukan selama bulan Ramadhan tidak sirna bersamaan dengan kepergian Ramadhan, terutama mengenai kesabaran dan kejujuran. Dengan kesabaran, kita akan terselamatkan dari tindakan emosial yang akan berujung pada anarkisme, bahkan terorisme. Kesabaran juga kita butuhkan dalam berdakwah. Dakwah dan sabar adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kesabaran merupakan kunci sukses dakwah para nabi. Kemudian, kejujuran sangat dibutuhkan negara ini guna membenahinya dari keterpurukan.

Semoga kita termasuk orang yang memenangkan pertempuran melawan hawa nafsu dan menundukkannya di bawah nilai-nilai Ilahi. Semoga sikap dan perbuatan baik yang menghiasi diri kita selama bulan Ramadhan terus menghiasi diri kita meskipun Ramadhan telah pergi. .....

Rabu, 01 September 2010

Zakat Fitrah


Sebulan kita menjalani rangkaian ibadah puasa Ramadhan, mulai dari sholat tarawih, tadarus, itikab mencari keutamaan lailatul qodar Semua itu terasa kurang lengkap apabila tidak di sempurnakan dengan amalan sodakoh wajib berupa zakat fitrah di akhir bulan Ramadhan sebelum memasuki hari kemenangan yang sering di sebut idul fitri.

Zakat fitrah bagi umat Muslim bukan sekedar rutinitas yang bernilai sosial untuk menyempurnakan ibadah puasa, tetapi lebih merupakan suatu kewajiban yang ditujukan bagi terbentuknya kesempurnaan ibadah puasa yang telah dilaksanakan kurang lebih satu bulan. Seorang muslim yang menjalankan ibadah puasa akan merasa kurang sempurna apabila tidak mengeluarkan zakat fitrah, walau seandainya tidak menjalankan ibadah puasa sekalipun, zakat fitrah tetap menjadi sesuatu yang penting bagi diri mereka. Ada perasaan tidak “enak” bila tidak menunaikannya.

Maka dari itu, bukan menjadi keanehan apabila pada akhir setiap bulan Ramadhan banyak umat Islam berbondong-bondong ber-zakat fitrah kepada panitia-panitia zakat fitrah yang ada di masjid, musholla atau tempat-tempat yang lain. Yang selanjutnya pihak panitia akan menyalurkan zakat fitrah tersebut kepada yang berhak, dan tak jarang juga…pihak panitia menyisihkan sebagian zakat yang terkumpul untuk dibagikan kepada para anggota keluarganya. Kejadian tersebut hampir dapat kita jumpai di sekeliling kita,

Pengertian “Zakat” dan “Fitrah” : Zakat secara umum merupakan hak tertentu yang diwajibkan oleh Allah terhadap harta kaum muslimin menurut ukuran-ukuran tertentu (nishab dan khaul) yang diperuntukkan bagi fakir miskin dan para mustahiq lainnya sebagai tanda syukur atas nikmat Allah swt. dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, serta untuk membersihkan diri dan hartanya Dengan kata lain, zakat merupakan kewajiban bagi seorang muslim yang berkelebihan rizki agar menyisihkan sebagian hartanya untuk diberikan kepada saudara-saudara muslim yang sedang kekurangan.

Sedangkan, fitrah diartikan dengan suci sebagaimana hadits Rasul “kullu mauludin yuladu ala al fitrah” (setiap anak Adam terlahir dalam keadaan suci) dan bisa juga diartikan juga dengan ciptaan atau asal kejadian manusia.

Maka “zakat fitrah”, adalah zakat untuk kesucian. Artinya, zakat ini dikeluarkan untuk mensucikan orang yang berpuasa dari ucapan atau perilaku yang tidak ada manfaatnya. Sebagaimana dinyatakan dalam suatu hadits

عن ابن عباس قال: فرض رسول الله زكاة الفطر طهرة للصائم من اللهو و الرفث و طعمة للمساكين. فمن أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة, و من أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات
.
"Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dia berkata bahwasanya Rasulullah mewajibkan zakat fitrah bagi orang yang berpuasa untuk menghapus kesalahan yang diakibatkan oleh perkataan dan perilaku yang tidak bermanfaat dan merupakan makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa yang membayar zakat sebelum pelaksanaan sholat ied, maka zakatnya diterima, dan barangsiapa yang membayarnya setelah melaksanakan sholat ied, maka ia termasuk sedekah biasa".

“Zakat fitrah” merupakan zakat karena sebab ciptaan. Artinya bahwa zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan kepada setiap orang yang dilahirkan ke dunia ini. Maka zakat bisa juga disebut dengan zakat badan atau pribadi. Semua orang dari semua lapisan masyarakat, baik yang kaya atau yang miskin selama mereka mempunyai kelebihan persediaan makanan pada malam hari raya idul fitri mereka tetap berkewajiban mengeluarkan zakat fitrah. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

أدوا صدقة الفطر صاعا من قمح – أو قال بر- عن كل إنسان صغير أو كبير, حر أو مملوك, غني أو فقير, ذكر أو أنثى. أما غنيكم فيزكيه الله وأما فقيركم فيرد الله عليه أكثر مما أعطى
.
“Bayarkanlah zakat fitrah satu sha’ gandum atau bur dari setiap manusia, anak-anak atau orang dewasa, merdeka atau hamba sahaya, kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan. Jika kamu sekalian kaya, maka Allah akan mensucikannya, dan jika fakir maka Allah akan mengembalikannya dengan lebih banyak daripada yang diberikannya".

Maka jelas bahwa zakat fitrah adalah ibadah yang diwajibkan bukan hanya untuk kaum berada saja tetapi untuk semua golongan baik miskin atau kaya, yang terlahir di jagad ini. Tetapi kadang suka salah kaprah dengan diabaikan zakat fitrah ini bagi kaum fakir miskin, seolah mereka terbebas dari kewajiban ini. Seandainya mereka tidak mampu berzakat fitrah bisa disiasati dengan meminjam dulu atau bagaimana caranya agar bisa melaksanakannya.

Bila kewajiban itu melekat ketika ia mampu melaksanakan kemudian setelah itu ia tdk mampu maka kewajiban tersebut tidak gugur darinya. Dan tidak menjadi kewajiban jika ia tidak mampu semenjak kewajiban itu mengenainya.” Kemudian yang dimaksud kriteria tidak mampu yaitu :

“Barangsiapa yg tidak mendapatkan sisa dari makanan pokok untuk malam hari raya dan siang maka tidak berkewajiban membayar fitrah. Apabila ia memiliki sisa dari makanan pokok hari itu ia harus mengeluarkan bila sisa itu mencapai ukuran .” tetapi utuk jaman sekarang ini InshaAllah yang demikian tidak ada, kalaupun masih ada itu tergantung kepahaman dan keimanan orang tersebut.

Zakat fitrah adalah merupakan kewajiban bagi tiap kaum muslimin yang harus di keluarkan sebelum datangnya sholat idul fitri atau lebih tepatnya sebelum terbitnya matahari pertama di bulan syawal. Apabila zakat fitrah sudah melewati batas tersebut maka status menjadi tidak sah, dan hanya dihukumi sebagai sodakoh biasa. Rasulullah dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas menjelaskan

من أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة, و من أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات

"Barangsiapa yang membayar zakat fitrah sebelum dia melaksanaan shalat iedul fitri, maka zakat fitrahnya diterima (dinyatakan sah), akan tetapi barangsiapa yang mengeluarkannya setelah melaksanakan shalat iedul fitri, maka zakat fitrahnya hanya dianggap sebagai sedekah biasa".

Hadist lain menjelaskan.

وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

“Dan Nabi memerintahkan agar dilaksanakan sebelum orang2 keluar menuju shalat.”

Sangat dimudahkan apabila kita akan berzakat fitrah di mana pelaksanaan kepada amil zakat dapat dimajukan 2 atau 3 hari sebelum Id berdasarkan riwayat berikut ini:

كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يُعْطِيْهَا الَّذِيْنَ يَقْبَلُوْنَهَا وَكَانُوا يُعْطُوْنَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

“Dulu Abdullah bin Umar memberikan zakat fitrah kepada yg menerimanya1. Dan dahulu mereka menunaikan 1 atau 2 hari sebelum hari Id.”

Dalam riwayat Malik dari Nafi’:

أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَبْعَثُ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ إِلَى الَّذِي تُجْمَعُ عِنْدَهُ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلاَثَةٍ

“Bahwasanya Abdullah bin Umar menyerahkan zakat fitrah kepada petugas yg zakat dikumpulkan kepada 2 atau 3 hari sebelum Idul Fitri.”

Dengan demikian zakat tersebut harus tersalurkan kepada yg berhak sebelum shalat. Sehingga maksud dari zakat fitrah tersebut terwujud yaitu untuk mencukupi mereka di hari itu dan tentunya agar mereka bisa merayakan idul fitri bukan cuma kita doang.

Kadang terjadi salah sasaran dalam menyalurkan zakat fitrah, yang seharusnya mendapatkan malah terabaikan dan sebaliknya yang tidak pantas menerima justru memperoleh zakat. Dan ini dituntut kejujuran dan kejelian para panitia zakat fitrah jangan hanya sekedar suka atau tidak suka, kenal atau tidak kenal Dalam Al Qur’an QS At Taubah 60: Allah berfirman:

“Hanya sedekah-sedekah itu (zakat) diberikan kepada fakir miskin, orang yang bekerja mengurus zakat (amil), orang-orang yang hatinya mulai terpau dengan islam (muallaf), budak-budak, orang-orang yang berhutang, orang-orang yang di jalan Allah, serta kepada orang-orang yang dalam perjalanan.”

Maka hati-hatilah dalam menyalurkan zakat fitrah jangan sampai salah sasaran karena apa yang dilakukan semua itu semata-mata karena Allah jangan karena yang lain apalagi karena ingin mengambil manfaat dari situasi. Dan jadilah Muslim yang sesungguhnya berikan dan keluarkanlah apa yang sudah menjadi keharusan jangan memainkan aturan karena yang demikian itu sama halnya mengkufuri Allah swt.

Kamis, 19 Agustus 2010

Lailatul Qodar


Ramadhan, bulan penuh limpahan nikmat adalah merupakan salah satu sarana yang Allah berikan kepada kita agar memperoleh ampunan-Nya. Banyak sekali kelebihan-kelebihan yang Allah berikan kepada hamba-Nya melalui Ramadhan ini, sehingga wajar kalau Rasulullah mengekspresikan keutamaannya dengan perkataan,

“Apabila umat ini tahu apa yang ada dalam Ramadhan, niscaya mereka akan mengharapkan hal itu selama satu tahun penuh.” (HR Tabrani).

Bahkan salah satu malam yang diselimuti keberkahan hanya terdapat pada salah satu malam di bulan Ramadhan. Betapa agungnya Ramadhan sehingga tak ada selainnya yang mendapatkan malam mulia yang lebih baik dari seribu bulan. …yah malam yang banyak di kenal dengan sebutan Lailatur Qodar. Rasulullah saw, bersabda,

“Barangsiapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadar, niscaya diampuni dosa-dosanya yang sudah lewat”. (HR Bukhari dan Muslim)

Lailatul Qadar (atau lebih dikenal dengan malam qadar) mempunyai keutamaan yang sangat besar, karena malam tersebut diturukanya Al-Qur`an, yang merupakan pedoman hidup kaum muslimin untuk mencapai kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang tinggi dan abadi. Umat Islam yang mengikuti Sunnah Rasulnya berlomba-lomba untuk beribadah di malam harinya di bulan puasa dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah saw banyak menjelaskan pada kita tentang berbagai keutamaan malam yang penuh berkah ini. Sebagai malam yang terbaik dan paling barokah diantara malam yang ada, didalamnya Allah telah menjanjikan pada hambanya yang ikhlas dan berharap untuk mendapatkan perlindungan-Nya di hari akhir, akan melipatgandakan sampai 1000 bulan untuk amal-amalan kebaikan yang dilakukan pada malam ini. Allah telah berfirman :

Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur'an pada lailatul Qadar, tahukah engkau apakah lailatul Qadar itu ? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turunlah melaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala urusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar" (Al-Qadr : 1-5]

Lailatul Qodar Malam turunnya Al-Quran secara sekaligus ke baitul izzah di langit dunia malam itu lebih baik daripada seribu bulan dalam hal kemuliaan, keutamaan dan banyaknya pahala. Malaikat-malaikat turun, sedang malaikat tidaklah turun kecuali membawa kebaikan, berkah dan rahmat.Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan yg penuh hikmah,

"Sesungguh Kami menurunkan pada suatu malam yg diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguh Kami adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Ad Dukhan : 3 - 6)

Bahkan Lailatul Qodar bisa di maknai malam kemuliaan 1000 bulan Terdapat beberapa pendapat ulama seputar makna tersebut :

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari 1000 bulan”. (QS. Al Qadar: 2).

Artinya, makna 1000 bulan diartikan sesuai tulisan, yaitu benar-benar 1000 bulan. Ini berdasarkan sebuah hadis yang menyebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW menyebutkan kisah empat orang Bani Israil –Ayyub, Zakariya, Hezkiel dan Yosua bin Nun- yang menyembah Allah SWT selama 80 tahun, tidak pernah sekedip matapun mereka berbuat maksiat kepada Allah SWT. Lantas para sahabat Rasulullah SAW merasa kagum dengan kisah tersebut. Kemudian Malaikat Jibril datang dan berkata,

“Wahai Muhammad, ummatmu kagum dengan mereka yang menyembah Allah SWT selama 80 tahun, sedangkan Allah SWT telah menurunkan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari itu”, kemudian Malaikat Jibril membaca surat Al Qadar dan berkata, “Ini lebih mengagumkan bagi engkau dan ummatmu”. Hal itu membuat Rasulullah SAW merasa bahagia.

Atau bisa dimaknai nilai 1000 adalah sebuah kiasan yang berarti banyak. Jumlah bilangan 1000 selalu digunakan bangsa Arab masa lalu untuk menunjukkan sesuatu yang banyak, seperti yang terdapat dalam ayat: “Salah seorang di antara mereka ingin agar usianya dipanjangkan hingga 1000 tahun”. (QS. Al Baqarah: 96).

Waktu Terjadinya Lailatul Qodar

Banyak kisah yang dapat di jadikan dasar mengenai turunya lailatur qodar ada yang mempercayai dimalam kedua puluh tujuh, ada juga yang mengatakan malam kedua puluh satu, dua puluh tiga, atau dua puluh lima. Sebagian lain mengatakan malam ke dua puluh sembilan. Banyak hadist dan pendapat mengenai waktu turunya Lailatur Qodr yang di jadikan rujukan. Lailatul Qodar terjadi pada malam-malam ganjil di bulan Ramadhan. Ada juga yang bependapat, terjadi pada malam 17 Ramadhan, berdasarkan ayat berikut:

“…dan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan”. (QS. Al Anfal: 41).

Al Furqan adalah pemisah antara yang hak dan yang batil. Hari jelasnya kemenangan orang-orang Islam dan kekalahan orang-orang kafir. Hari bertemunya dua pasukan besar itu terjadi pada perang Badar yaitu hari Jumat tanggal 17 Ramadhan tahun ke II Hijrah. Lailatul Qodar terjadi pada malam 27 Ramadhan, berdasarkan beberapa hadis yang mengisyaratkan hal itu.

Kemudian diketahui ada kisah dalam Sunnah, pemberitahuan ini ada, karena perdebatan para shahabat. Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada Lailatul Qadar, lalu ada dua orang sahabat berdebat, maka beliau bersabda:

“Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang Lailatul Qadr, tetapi fulan dan fulan berdebat hingga diangkat (tidak bisa lagi diketahui kapan kepastian lailatul qadr terjadi), semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29, 27 dan 25.” (HR. Al-Bukhariy 2023)

Pendapat yang paling kuat dan sering dipercayai, terjadinya Lailatul Qadar itu pada malam di akhir-akhir bulan Ramadhan sebagaimana ditunjukkan oleh hadits ‘A`isyah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda:

“Carilah Lailatul Qadr di malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhariy no.2017 dan Muslim no.1169)

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, maka janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, berdasarkan riwayat dari Ibnu ‘Umar, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika salah seorang di antara kalian tidak mampu atau lemah maka jangan sampai terluput dari tujuh hari sisanya.” (HR. Muslim no.1165)

Banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa Lailatul Qadr itu terjadi pada sepuluh hari terakhir. Maka di malam-malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan persiapkan diri kita untuk meraih kemuliaan Allah SWT karena disitulah discount pahala besar-besaran.

Tanda-tanda Lailatul Qodar


Terdapat beberapa hadits yang menjelaskan tanda-tanda Lailatul Qadar, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al Baihaqi dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit:

“Di antara tanda Lailatul Qadar, suatu malam yang cerah, bersih, tenang, tidak panas dan tidak pula dingin, seakan-akan terdapat bulan yang bersinar, tidak satu bintangpun terbit hingga subuh”.

Terdapat juga beberapa hadits seirama, disebutkan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, walaupun hadis-hadis tersebut tidak sampai ke derajat hadis shahih:

“Sesungguhnya tanda Lailatul Qadar adalah, suatu malam yang bersih, cerah, seakan-akan terdapat bulan purnama yang bersinar, malam yang tenang dan teduh, tidak dingin dan tidak pula panas, bintang-bintang tidak terbit muncul hingga subuh”.

Dalam hadis lain disebutkan:

“Tanda Lailatul Qadar, matahari terbit di pagi harinya dalam keadaan normal, tidak terdapat cahaya padanya, seperti bulan di malam purnama, syetan tidak diperkenankan keluar pada malam itu”.

Memang kalau di lihat dari teksnya sangat aneh tapi itulah hadist yang kadang di luar batas penalaran kita. Ada juga sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud Ath-Thayalisi yang beliau riwayatkan dari Zam’ah dari Salamah bin Wahram dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah SAW bersabda tentang Lailat Al Qadar:

“Suatu malam yang teduh dan cerah, tidak panas dan tidak pula dingin, pada pagi harinya matahari terbit dengan cahaya lemah memerah”.

Dari Ubaiy, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

“Pagi hari malam Lailatul Qadr, matahari terbit tidak ada sinar yang menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no.762)

Dan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

“Malam Lailatul Qadr adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, dan keesokan harinya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. Ath-Thayalisiy 349, Ibnu Khuzaimah 3/231 dan Al-Bazzar 1/486, sanadnya hasan)

Itu contoh hadist yang menggambarkan ketika Lailatul Qodar turun.

Bagaimana Mencari Lailatul Qadar?

Karena Lailatul Qodr terjadi setahun sekali yaitu bertepatan dengan amalan ibadah puasa bulan Ramadhan, maka rugilah kita kalau menyia-yiakannya. Maka perbanyaklah amalan di sepuluh hari terahir jangan sampai terlewat walau itu hanya sehari. Bila perlu bagi yang siang harinya menjalankan aktivitas ambilah libur untuk persiapan malam harinya.

Oleh karena itu alangkah baiknya bagi muslimin agar bersemangat dalam melakukan ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar seperti melakukan shalat tarawih, membaca Al-Qur`an, menghafalnya dan memahaminya serta amalan yang lainnya, yang dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala-Nya yang besar. Jika dia telah berbuat demikian maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa shalat malam/tarawih (bertepatan) pada malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhariy 38 dan Muslim no.760)

Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Diriwayatkan dari ‘A`isyah, dia berkata: Aku bertanya: Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan Lailatul Qadr (terjadi), apa yang harus aku ucapkan? Beliau menjawab: Ucapkanlah.....

اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.” (HR. At-Tirmidziy 3760 dan Ibnu Majah 3850, sanadnya shahih)..

Dari ‘A`isyah berkata:

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan kainnya (yaitu menjauhi istri-istrinya untuk konsentrasi beribadah dan mencari Lailatul Qadr).” (HR. Al-Bukhariy no.2024 dan Muslim no.1174)

Begitu bermaknanya malam kodar buat umat Islam sampai Rosululullah menganjurkan berkali-kali lewat beberapa hadistnya. Kita sebagai umatnya yang jelas-jelas banyak melakukan kesalahan dan dosa besar, kadang meremehkan arti Islam itu sendiri, marilah di bulan Ramadhan ini bukan hanya kembali ke jalan Allah SWT dan kembali ke Al-qur’an dan Sunah Rasul. Tapi lebih kepada intropeksi diri sejauh mana posisi keimanan kita. Jangan hanya sekedar ikut hura-hura menyambut Idul Fitri yang akan hadir setelah ini…ayo tempatkan posisi anda yang sebenarnya Ramadhan akan segera berakhir di tahun ini.

Sebelum dan sesudahnya saya mohon maaf kalau ada kesalahan kata, tak lupa saya mengucapkan…..Selamat Hari Raya Idul Fitri Taqobalallahu minna wa minkum Mohon maaf lahir dan bathin….

Selasa, 10 Agustus 2010

Memaknai Puasa Bulan Ramadhan

Sekarang kita berada di bulan Ramadhan bulan yang penuh rahmat, bulan yang penuh keutamaan, karena di bulan inilah umat islam diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa. Walau berat sebagai manusia yang beriman tentu perintah itu sebagai hal yang biasa-biasa saja karena memang ayat tersebut di peruntukan bagi orang yang beriman, coba simak baik-baik ayat berikut ini :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagi kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan bagi orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa” [Al Baqarah:183]

Jelas sebagai orang yang beriman hukumnya wajib, bagi yang tidak beriman berarti tidak termasuk di dalam ayat ini, kemudian apakah orang yang tidak beriman terbebas dari kewajiban puasa Ramadhan?.

Pengertian Iman dalam Islam menempati posisi amat penting dan strategis sekali. Karena iman adalah asas dan dasar bagi seluruh amal perbuatan manusia. Tanpa iman tidaklah sah dan diterima amal perbuatannya. Firman Allah SWT dalam Qur’an Surah An-Nisa’ 124 yg artinya

Barangsiapa yg mengerjakan amal-amal shaleh baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yg beriman maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”

Juga dalam Qur’an Surah Al-Isra’ 19 yg artinya

Dan barangsiapa yg menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min maka mereka itu adalah orang-orang yg usahanya dibalasi dengan baik.”

Dengan demikian iman itu bukan sekedar pengertian dan keyakinan dalam hati, bukan sekedar ikrar degan lisan dan bukan sekedar amal perbuatan saja tapi hati dan jiwa kosong. Dan yang terpenting Iman itu bukanlah sekedar angan-angan dan bukan pula sekedar basa-basi degan ucapan akan tetapi sesuatu keyakinan yang terpatri dalam hati dan dibuktikan degan amal perbuatan.

Nikmatnya Ramadan..

Terkadang pemahaman makna bulan Ramadhan sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja bulan yang setiap tahunya berulang terus. Jangan cuma tau bahwa di bulan Ramadhan ada perintah puasa, bulan turunnya Al-Qur’an, adanya shalat tarawih di setiap malamnya yang di bulan-bulan biasa tidak ada, adanya perintah mengeluarkan zakat fitrah dan sebagainya yang pada akhirnya merayakan idul fitri dimana orang-orang bersuka ria dengan gaya busana serba baru.

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah Allah SWT membuka peluang lebar-lebar bagi hambanya untuk membersihkan dosa dan kesalahan yang selama ini dilakukan asal mau melaksanakan puasa Ramadhan dengan landasan iman dan ikhlas serta tidak melakukan berbagai macam dosa-dosa.

Begitu banyak pujian Allah untuk bulan Ramadhan dan keistimewaan yang diberikan Allah untuk orang-orang yang berpuasa. Berbeda dengan ibadah yang lain, puasa dinyatakan untuk Allah sendiri.
Bahkan dikatakan, bau mulut orang yang berpuasa (dan itu wajar karena seharian tidak kemasukan makanan atau minuman) ternyata di hadapan Allah lebih harum daripada bau minyak kesturi.

" Sungguh, demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada Hari Kiamat darpada wangi minyak kesturi”. (HR Muslim).

Dalam bulan Ramadhan, Allah yang Maha Pemurah menjadi lebih pemurah lagi, dilipatkangandakan-Nya perhitungan pahala orang yang berbuat kebajikan. Siapa saja yang melakukan ibadah sunnah dihitung melakukan kewajiban dan yang melakukan kewajiban dilipatkangandakan pahalanya 70 kali dibandingkan dengan melakukan kewajiban di luar bulan Ramadhan. Bahkan Allah juga akan menambah rezeki orang-orang beriman di bulan puasa ini.

”Sesungguhnya engkau akan dinaungi bulan yang senantiasa besar lagi penuh berkah, bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Ramadhan adalah bulan sabar dan sabar pahalanya surga. Ramadhan adalah bulan pemberian pertolongan dan bulan Allah menambah rezeki orang Mukmin”. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dikatakan juga bahwa puasa memberikan kebahagiaan kepada yang melakukan, yakni ketika berbuka dan ketika bertemu Allah SWT kelak.

”Untuk orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: ketika berbuka, ia senang dengan bukanya ketika berjumpa dengan Allah kelak, ia senang dengan puasanya”. (HR Muslim).

Sepanjang hidup kita, tak terhitung sudah kita makan berbagai makanan. Akan tetapi, mengapa setiap berbuka, kita merasakan sesuatu yang berbeda. Ada perasaan lega, syukur, nikmat dan bahagia yang tak terucapkan. Semua itu tentu hanya bisa dirasakan oleh orang yang menjalankan puasa. Tidak aneh, saat berbuka adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh siapapun yang berpuasa.

Dan saat bertemu dengan Allah, Nabi menyatakan bahwa puasa akan memberikan syafaat (pertolongan) kepada yang melakukannya dan menghindarkannya dari jilatan api neraka. Puasa dan Al-Quran akan memberi syafaat pada Hari Kiamat. Berkata Puasa,

“Ya Tuhan, Engkau larang hamba-Mu makan dan memuaskan syahwat pada siang hari, dan sekarang ia meminta syafaat padaku karena itu.” (HR Ahmad).

”Tidak berpuasa seorang manusia satu hari dalam jihad fi sabilillah kecuali dengan itu Allah menghindarkan dirinya dari neraka selama tujuh puluh tahun”. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ramadhan Yang Sia-Sia

Setelah puasa Ramadhan sekian hari lamanya, apa yang sudah kita dapatkan dari puasa kali ini? tentu jawabanya kembali pada bagaimana kita memahami puasa Ramadhan itu sendiri. Bila puasa dipahami hanya sekadar tidak makan dan minum serta tidak melakukan yang membatalkan puasa, tentu cuma itu pula yang akan didapat. Puasa memang merupakan ibadah dalam bentuk tidak mengkonsumsi makanan dan minuman serta tidak melakukan hal yang membatalkan puasa pada siang hari Ramadhan. Itu betul. Akan tetapi, Nabi sendiri menyatakan:

Bukanlah puasa dari sekadar menahan makan dan minum tapi puasa yang sesungguhnya adalah menahan dari laghwu dan rafats. (HR Ibn Khuzaimah).

Itu menunjukkan bahwa ada makna yang lebih dalam dari sekadar menahan lapar dan dahaga.
Selama puasa, kita dilarang makan dan minum serta berhubungan seksual dengan istri atau suami kita. Padahal, makanan dan minuman itu halal, serta suami atau istri pun juga halal. Ternyata, dengan tekad dan kemauan yang besar, kita bisa. Nah, bila untuk menjauhi yang halal saja bisa, mestinya dengan tekad yang sama, semua perkara yang haram, lebih bisa lagi kita ditinggalkan.

Puasa Ramadhan memang adalah bulan riyadhah (latihan) untuk meningkatkan kemauan untuk taat kepada aturan Allah. Bila berhasil, nanti di penghujung bulan Ramadhan kita benar-benar bisa disebut muttaqin (orang yang bertakwa), yakni orang yang mempunyai kemauan yang kuat untuk senantiasa melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Artinya, semestinya pada bulan lain setelah Ramadhan, kita menjadi lebih taat kepada syariat-Nya.

Mengapa kenyataannya tidak demikian? Tetap saja, kemaksiatan terjadi di mana-mana. Karena Indonesia mayoritas penduduknya Muslim, pelaku kejahatan juga tentu kebanyakan Muslim. Pelacuran dan perjudian marak di mana-mana; pornografi dan pornoaksi tetap saja terjadi; korupsi makin menjadi-jadi; dan sebagainya. Jika demikian, mana pengaruh puasa yang setiap tahun dilaksanakan?

Kita ternyata memang selama ini kurang peduli terhadap esensi ibadah. Shalat rajin, maksiat juga rajin. Haji ditunaikan, korupsi digalakkan. Bacaan al-Quran dilombakan, tetapi ajarannya dilecehkan. Seperti kata Nabi dalam sabdanya :

”Betapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan betapa banyak orang yang menghidupkan malam tidak mendapatkan apa-apa kecuali begadangnya saja”. (HR Ibnu Majah).

Memang, pengennya ketika Ramadhan, maksiat serta merta berhenti, atau malah lenyap sekalian. Tapi lain harapanya, lain pula dalam kenyataan. Di satu sisi, kita nggak menutup mata kalau memang ada perubahan yang berarti bagi sebagian dari kita. Tapi kita juga prihatin, sebab masih ada juga yang nggak kenal kata akhir dalam maksiat. Ramadhan dibabat juga. Orang model begini memang rada susah diajak untuk baik.

Ramadhan, bagi sebagian dari kaum muslimin yang masih getol maksiat, tidak membuat mereka berhenti dan meninggalkan kebiasaan buruk dan terkutuknya itu. Malah tetap maju terus pantang mundur. Mereka bisa berbuat begitu, selain karena kebodohannya, juga karena kemalasannya untuk mencari ilmu, yakni malas untuk mengetahui tentang ajaran Islam. Jadi ada kesan masa bodoh dengan ajaran Islam. Dengan demikian, orang model begini layak dicap sebagai orang yang tak mau tahu dengan ajaran Islam.

Begitu pula kita prihatin dengan kondisi pergaulan teman-teman remaja, baik di kota maupun di desa. Ternyata aktivitas maksiatnya tetep jalan meski sedang berpuasa. Seperti tentang pergualan laki-perempuan, sampai sekarang masih dijumpai remaja yang tak bisa lepas dari pacaran. Maka jangan kaget jika acara JJS (Jalan-Jalan Subuh) di bulan Ramadhan jadi ajang untuk PDKT dengan pasangannya. Hasilnya, mulut mereka memang puasa dari makan dan minum, tetapi beliau-beliau ini tidak puasa dari berbuat maksiat. STMJ, Shaum Terus, Maksiat Jalan! Walah kepriben bok yo waras sitik..?

Lewat tulisan ini bukannya sok suci, ingin mengingatkan yang masih doyan maksiat, tolong hentikan semua kegiatan tercela itu. Mari kita mengubah diri kita dengan Islam, dan tentunya tidak setengah-setengah, tetapi total dengan tuntunan Islam. Yang memang satu-satunya solusi untuk kemaslahatan manusia di muka bumi ini. Maka sungguh heran jika masih ada manusia yang tidak suka dengan Islam. Apalagi sampai membencinya. Kita tidak ingin menyaksikan ada umat Islam yang tidak kenal dengan ajaran agamanya sendiri. Mengerikan sekali kalau memang itu terjadi. Semoga segera sadar dari kekeliruannya

Demikian sekelumit unek-unek dari saya. Mohon maaf kalau ada kata yang tidak berkenan, dan.. selamat menunaikan ibadah puasa di tahun ini semoga amal ibadah kita di terima oleh ALLAH SWT.Amiin...

Senin, 02 Agustus 2010

Menyambut Puasa Bulan Ramadhan

Tidak lama lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan, Bulan yang penuh rahmat, karena di situlah banyak harapan yang bisa kita wujudkan. Tentunya bagi setiap individu ingin menjadi seseorang yang utuh / lebih baik, menjadi yang "baru", menemukan kembali kedamian dan kesejukan di bulan Ramadhan nanti, yang tidak di jumpai di bulan lainnya. Juga lebih baik bagi seluruh umat Islam di dunia terutama bagi mereka yang selalu terkena imbas keserakahan dan ketamakan orang kafir. Dan aku selalu berharap dalam doaku.....

Ya Allah ijinkan aku memasuki bulan suci ini sekali lagi. Ijinkan aku untuk bisa menjadi makhluk-Mu yang lebih baik lagi. Tak akan sanggup kuhitung dosa-dosa yang pernah kuperbuat. Dan aku lebih tak sanggup lagi menghitung semua nikmat yang telah Kau anugerahkan padaku... Ya Allah ijinkan aku bisa menjadi seseorang yang lebih bermanfaat untuk orang-orang yang ada di sekitarku. Ijinkan aku bisa memaknai semua hal yang terjadi dalam kehidupan ini. Ijinkan aku untuk bisa membaca semua nama-Mu di dunia ini.

Saat semuanya kembali menjadi "nol", saat semua belenggu kembali menjadi kosong. Men-zero-kan hati dan pikiran demi menjadi pribadi yang baru. hanya bergantung pada Allah SWT. Melakukan segala sesuatu bukan untuk mencari pujian, bukan pula mencari penghormatan, bukan karena mengharapkan imbalan dari orang lain...melainkan hanya sebagai bentuk pengabdian hanya pada-Nya

Sebelum memasuki bulan Ramadhan banyak yang bisa kita lakukan agar ketika Ramadhan tiba sudah benar-benar siap seperti, selalu merutinkan berdoa kepada Allah agar kita dapat bertemu dengan bulan Ramadhan berikutnya. Juga memohon kepadanNya supaya memberikan kekuatan untuk melaksanakan shaum, qiyamullail dan amal sholeh lainnya didalam bulan tersebut.

Membersihkan jiwa dan hati, bertaubat dengan sebenar-benarnya dari segala dosa dan perbuatan maksiat. Jangan sampai mengotori bulan Ramadhan. Tidak pantas juga bila seseorang sedang semangat beribadah puasa tetapi meninggalkan sholat wajib lima waktu. Demikian pula mereka yang pada siang hari menahan lapar dan dahaga namun malam harinya tenggelam bersama dentuman musik, asap rokok dan minuman beralkohol sepertinya puasa hanya sebagai kedok saja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

“Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.”

Taubat menunjukkan tanda totalitas seorang dalam menghadapi Ramadhan. Dia ingin memasuki Ramadhan tanpa adanya sekat-sekat penghalang yang akan memperkeruh perjalanan selama mengarungi Ramadhan. Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk bertaubat, karena taubat wajib dilakukan setiap saat. Allah SWT berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٣١)

“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An Nuur: 31).

Taubat yang dibutuhkan bukanlah seperti taubat yang sering kita kerjakan. Kita bertaubat, lidah kita mengucapkan, “Saya memohon ampun kepada Allah”, akan tetapi hati kita lalai, akan tetapi setelah ucapan tersebut, dosa itu kembali terulang. Namun, yang dibutuhkan adalah totalitas dan kejujuran taubat. Jangan pula taubat tersebut hanya dilakukan di bulan Ramadhan, sementara di luar Ramadhan kemaksiatan kembali digalakkan. Ingat!.. Ramadhan merupakan momentum ketaatan sekaligus madrasah untuk membiasakan diri beramal shalih sehingga jiwa terdidik untuk melaksanakan ketaatan-ketaatan di sebelas bulan lainnya.

Untuk mengantisipasi semua itu maka jauh sebelum Ramadhan tiba setiap muslim harus segera bertaubat dan berhenti dari segala apa saja yang dapat merusak nilai-nilai kesucian bulan Ramadhan tersebut.

Dan yang lebih penting bagi para wanita yang masih punya hutang puasa pada bulan Ramadhan sebelumnya harus cepat-cepat di selesaikan, karena akan menghambat dan mengganggu konsentrasi ibadah puasa Ramadhan yang sedang dijalankannya.

Ketika bulan sya'ban akan berakhir dan Ramadhan segera menjelang, Rasulullah saw memberikan bekalan ruhani kepada para sahabat mengenai bulan suci Ramadhan.
Rasulullah menganjurkan kepada para shahabat untuk memperbanyak melakukan amal ibadah kerana ibadah pada bulan Ramadhan nilai pahalanya akan dilipat gandakan hingga 700 kali lipat atau lebih, Rasulullah juga menganjurkan sekali untuk memberi makanan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa kerana bagi orang tersebut akan mendapat pahala dari orang yang diberi sedikit makanan berbuka puasa tanpa mengurangi pahala orang tersebut.

Para sahabat bertanya : Ya, rasulullah saya tidak mempunyai apa-apa yang berharga untuk diberikan kepada orang yang berpuasa. Rasulullah menjawab : Sediakanlah apapun yang kau punya walaupun hanya sepotong kurma, seteguk air ataupun segelas susu.

Ketidaksiapan yang Berbuah Pahit

Dan jangan sampai Ramadhan tiba tetapi kita tidak siap untuk menjalankannya Ketidaksiapan tersebut salah satu bentuk meremehkan perintah. Akibatnya pun sangat besar, yaitu kelemahan untuk menjalankan kewajiban tersebut dan terhalang dari ridha-Nya. Dampak tersebut merupakan hukuman atas ketidaksiapan dalam menjalankan kewajiban yang telah nampak di depan mata.

Firman Allah dalam surat At Taubah ayat 83 :

“Maka jika Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), Maka katakanlah: “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. karena itu duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.”

Renungilah ayat di atas baik-baik!

Ketahuilah, Allah ta’ala tidak menyukai keberangkatan mereka dan Dia lemahkan mereka, karena tidak ada persiapan dan niat mereka yang tidak lurus lagi. Namun, bila seorang bersiap untuk menunaikan suatu amal dan ia bangkit menghadap Allah dengan kerelaan hati, maka Allah terlalu mulia untuk menolak hamba yang datang menghadap-Nya. Berhati-hatilah dari mengalami nasib menjadi orang yang tidak layak menjalankan perintah Allah ta’ala yang penuh berkah. Seringnya kita mengikuti hawa nafsu, akan menyebabkan kita tertimpa hukuman berupa tertutupnya hati dari hidayah.

Dalam surat yang lain Allah ta’ala berfirman,

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al An’am: 110).

Maka sepantasnyalah kita kelewat syukur karena pada tahun ini kita dapat menjumpai lagi bulan yang agung bulan di mana pintu Syurga di buka lebar-lebar dan pintu neraka di tutup rapat. Ambillah dan rebutlah kemurahan di bulan Ramadhan esok yang sebentar lagi akan kita jumpai.

Hendaknya kita mengetahui bahwa salah satu nikmat yang banyak disyukuri meski oleh seorang yang lalai adalah nikmat ditundanya ajal dan sampainya kita di bulan Ramadhan. Tentunya jika diri ini menyadari tingginya tumpukan dosa yang menggunung, maka pastilah kita sangat berharap untuk dapat menjumpai bulan Ramadhan dan mereguk berbagai manfaat di dalamnya.

Bersyukurlah atas nikmat ini. Betapa Allah ta’ala senantiasa melihat kemaksiatan kita sepanjang tahun, tetapi Dia menutupi aib kita, memaafkan dan menunda kematian kita sampai bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan.

Selamat menunaikan Ibadah Puasa Bulan Ramadhan....mohon maaf atas segala kesalahan terutama dalam setiap tulisan saya.

Rabu, 21 Juli 2010

Menjadikan Kubur Tempat Syirik

.
“KUBURAN” kalau kita mendengar kata itu pikiran kita akan mengarah ke suatu tempat peristirahatan abadi terutama untuk Manusia. Banyak pelajaran yang kita peroleh dari kata Kuburan, misal untuk tempat intropeksi diri bahwa suatu saat nanti akan tinggal di tempat itu.

Kuburan kalau di daerah perkampungan masih berkesan serem dan angker, bahkan masih ada sebagaian orang mengkeramatkan dan mungkin digunakan sebagai tempat pemujaan untuk perantara mencari kekayaan. Bukan berarti di perkotaan itu tidak terjadi walau sebagaian kuburan sudah di setting seindah mungkin untuk menghilangkan kesan serem.

Kematian merupakan suatu kepastian yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada setiap yang bernyawa. Ketentuan yang tidak bisa dimajukan dan dimundurkan, yaitu berpisahnya ruh dari jasad. Perpisahan ini menggambarkan sesuatu yang tidak bisa berbicara lagi, berpikir, bergerak, melihat, mendengar sebagaimana tabiat kehidupan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

Manusia telah bersepakat bahwa bila ruh berpisah dengan jasad, maka jasad tersebut tidak bisa bergerak, berbicara, mendengar, bekerja, berdiri dan tanda-tanda kehidupan lainnya. Namun kerusakan aqidah mereka menyebabkan terbaliknya keyakinan tersebut. Sehingga mereka meyakini bahwa orang mati itu bisa muncul lagi ke dunia, bisa berbuat sesuatu di luar perbuatan orang yang hidup, mendatangi keluarganya lalu menyapa mereka, muncul di atas kuburnya, menarik kaki orang-orang yang berjalan di atasnya, dan sebagainya. Ini semua adalah cerita-cerita khurafat yang didalangi oleh Iblis dan tentara-tentaranya untuk merusak aqidah orang-orang Islam.

Bisakah si mayit mendengar dan berbuat sesuatu sehingga kita bisa menjadikan dia sebagai perantara dengan Allah atau kita bisa meminta sesuatu kepadanya? Bisakah si mayit membantu orang yang mengalami malapetaka dan kesulitan hidup? Tentu setiap orang akan menjawab bahwa mayit tidak akan sanggup melakukan yang demikian. Namun keyakinan banyak manusia sekarang justru sebaliknya. Begitulah bila kuburan telah diagungkan dan fitrah telah rusak.

Kuburan merupakan salah satu ajang kekufuran dan kesyirikan di masa jahiliyah. Dan itu terbukti dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-’Uzza dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah patut untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah anak perempuan. Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.” (An-Najm: 19-22)

Sebenarnya Nabi Muhammad SAW sudah mengisyaratkan tentang penyembahan kubur itu di dalam banyak hadits-hadits yang shahih. Antara lain hadits di bawah ini: Dari ‘Atho’ bin Yasar, bahwa Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa:

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Wahai Alloh janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (tuhan yang disembah), besar murka Alloh terhadap orang-orang yang menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”. (HR. Malik, di dalam kitab Al-Muwaththo’, no: 376)

Hadits ini mursal (termasuk lemah), namun dikuatkan oleh hadits-hadits yang lain sehingga menjadi shahih. Oleh Karena itu Syaikh Al-Albani menshahihkannya Di antara hadits yang menguatakan adalah hadits di bawah ini: Dari Abu Huroiroh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (beliau pernah berdoa):

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا لَعَنَ اللَّهُ قَوْمًا اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Wahai Alloh janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (tuhan yang disembah), Alloh melaknat orang-orang yang menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid” (HR. Ahmad, di dalam kitab Musnad, juz: 2, hlm: 246)

Nabi Muhammad SAW khawatir akan terjadi di kalangan umatnya apa yang telah terjadi pada orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap kuburan Nabi-Nabi mereka, yaitu yang berupa ghuluw (sikap melewati batas) terhadap kubur-kubur itu sehingga kuburan itu menjadi berhala-berhala. Maka beliau memohon kepada Allah agar tidak menjadikan kubur beliau demikian itu. Kemudian beliau Nabi Muhammad SAW mengingatkan sebab kemurkaan dan laknat Alloh menimpa orang-orang Yahudi dan Nasrani, yaitu apa yang telah mereka lakukan terhadap kuburan para Nabi mereka, sehingga mereka merubahnya menjadi berhala-berhala yang disembah. Maka mereka terjerumus di dalam syirik yang besar yang bertentangan dengan tauhid.

Maka itulah Alloh SWT mencela perbuatan orang-orang jahiliyah yang menyembah kepada selain Alloh di dalam banyak tempat di dalam Al-Qur’an. Antara lain :

Beritahukan kepadaku (hai orang-orang musyrik) tentang Al-Lata dan Al-Uzza, dan Manah yang ketiga, yang lain itu? (QS. An-Najm (53): 19-20)

Dari Ibnu Abbas tentang firman Alloh Ta’ala: “tentang Al-Lata dan Al-Uzza”, (QS. An-Najm (53): 19), beliau Rosululloh mengatakan :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِهِ اللَّاتَ وَالْعُزَّى كَانَ اللَّاتُ رَجُلًا يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ

“Latta dahulu adalah seorang laki-laki yang membuat adonan tepung untuk orang yang berhaji”. (HR. Bukhori, no: 4859)

Makna ayat tersebut adalah bahwa berhala tidak akan bisa memenuhi apa yang kita minta ketika kita siang malam menyembah dan mengagungkannya, karena seonggok batu yang tidak bermanfaat, yang demikian itu sebenarnya merupakan persekutuan dengan syetan.

Kenyataannya di jaman sekarang masih banyak orang mengagungkan/mengkeramatkan kuburan para Wali atau Orang-orang yang dianngap Sholih, mereka berani berbuat syirik hanya sekedar terlalu mengangungkan kuburan orang yang berjasa/Sholeh. Orang-orang yang mengagungkan kubur itu melewati beberapa jenjang sampai mereka menyembahnya.

Jenjang tersebut antara lain : Taqdis (mengkultuskan) orang yang di kubur; Menjadikan penghuni kubur sebagai wasilah (perantara) kepada Alloh; Meyakini keberkahan kubur; Istighotsah dan memohon hajat; Menjadikan kubur sebagai berhala (tuhan yang disembah); Dan menjadikan kubur sebagai tempat yang diziarahi. Sebagian kenyataan pada umat ini yang menunjukkan jauhnya sebagian orang yang mengaku beragama Islam dari ajaran Islam.

Selain itu, masih banyak di berbagai tempat orang-orang mengagungkan kubur-kubur secara berlebihan, dan mengangkat kubur-kubur itu sebagai sekutu-sekutu bagi Alloh. Maha Suci Alloh dari kemusyrikan mereka. Semoga Alloh memberikan bimbinganNya kita dan kaum muslimin menuju apa yang Dia cintai dan ridhoi. Aamiin.

Bahkan terlalu sayangnya dan sebagai bentuk penghormatan kepada Orang tersebut, rela mengeluarkan biaya yang begitu besar untuk membangun kuburanya dengan ukiran tulisan yang indah di atas makamnya. Yang demikan sangat di larang oleh Rosululloh. Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kuburan dikapur, diduduki, dan dibangun.”

Al-Imam At-Tirmidzi dan yang lain meriwayatkan dengan sanad yang shahih dengan tambahan lafadz:

وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ

“dan ditulisi.”

Karena hal itu termasuk salah satu bentuk sikap berlebihan sehingga harus dilarang. Juga karena penulisan bisa berdampak yang parah berupa sikap berlebihan dan larangan-larangan syar’i lainnya. Yang diperbolehkan hanyalah mengembalikan tanah (galian) kubur tersebut dan di tandai dengan batu atau pepohonana agar ketahuan bahwa itu adalah kuburan. Inilah yang sunnah dalam masalah kuburan dan ini yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabatnya.

Tidak boleh pula menjadikan kuburan sebagai masjid (yaitu tempat untuk shalat atau shalat menghadapnya.). Tidak boleh pula mengerudunginya atau membuat kubah di atasnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari sahabat Jundub bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lima hari sebelum meninggalnya:

إِنَّ اللهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيْلاً كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيْلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai kekasih-Nya sebagaimana menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku mau menjadikan seseorang dari umatku sebagai kekasihku tentu aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Ketahuilah bahwa orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur nabi-nabi dan orang shalih mereka sebagai tempat ibadah. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kubur-kubur sebagai masjid karena sesungguhnya aku melarang kalian dari perbuatan itu.”

Maka perlunya kita berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dengan itu kita sudah cukup sebagai bekal untuk beribadah kepada Allah SWT, jangan terpengaruh dengan kitab-kitab yang menyesatkan. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Dekat.