Cari Blog Ini

Minggu, 16 Januari 2011

Mencegah Berbuat Maksiat

Kita adalah manusia biasa yang punya peluang berbuat dosa tetapi tentu saja bukan berarti kita harus kalah, kita akan jatuh bangun tetapi tidak boleh kita terus menerus jatuh, apalagi masuk ke dalam lubang yang sama.

Ada beberapa teknik yang mudah-mudahan bisa menjadi bahan bagi kita untuk mengendalikan diri supaya kita tidak tergelincir dalam perbuatan dosa :

Pertama yang paling potensial adalah dengan mengingat kematian, kita semua mungkin masih ingat tentang sebuah kasus yang diberitakan beberapa media baru-baru ini, yaitu tentang seorang petinggi yang meninggal di sebuah hotel bersama seorang wanita yang bukan muhrim, kemudian ada beberapa juga nama yang dikenal meninggal dalam pelukan wanita yang tidak halal.

Artinya dengan mengingat kematian itu adalah merupakan salah satu teknik untuk membuat kita tercegah dari perbuatan maksiat, karena ternyata andaikata kita mati ketika sedang berbuat maksiat, Naudzubillahi min dzalik, alangkah aibnya mati dalam keadaan seperti itu, istri dan anak-anaknya akan menanggung aib, orang tua akan terpukul, institusi juga ikut tercemar, begitu banyak dampak negatif yang diakibatkannya, dan tentu saja mati ketika berbuat maksiat merupakan mati kehinaan, mati yang tidak terhormat.

Maka andaikata kita berkeinginan berbuat maksiat, Naudzubillahi min dzalik, kita harus ingat karena jangan-jangan kita mati di tempat maksiat, ini akan jadi aib yang akan tersebar kemana-mana. Maka hati-hatilah saudaraku dengan memperbanyak ingat mati Insya Allah akan membuat kita mempunyai rem yang lebih efektif dalam mencegah diri dari berbuat maksiat.


“Dan Allah sekali-kali tidak akan Menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. 63 ; 11)

Kedua adalah dengan membayangkan bagaimana jika Allah membeberkan aib kita, karena ternyata aib itu tidak bisa disembunyikan, karena tidak ada satupun yang dapat menghalangi jika Allah akan membeberkan apa yang Dia kehendaki, mati-matian kita dengan rencana yang matang untuk menutupi aib, tidak akan dapat menghalangi kalau Allah mau membeberkan diri kita termasuk maksiat yang kita lakukan. Maksiat yang diperbuat mudah bagi Allah untuk menjelaskannya kepada siapapun. Oleh karena itu ketakutan kita akan dibeberkan aib kita oleh Allah akan membuat kita seharusnya tercegah dari perbuatan maksiat.

Pernah suatu ketika ada seseorang yang memiliki keinginan untuk berzina, berbicara kepada Rasullulah SAW “ Ya Rasul saya ingin zina ……, lalu sebagian sahabat yang hadir kontan seketika itu  marah, tetapi Rasulullah tetap bersikap tenang, kemudian beliau mengajukan beberapa pertanyaan “ bagaimana jika ibumu dzjinahi ?, orang itu langsung marah, lalu Rasul bertanya kembali “ bagaimana jika anak-anak perempuanmu ada yang menzinahi ? “ bagaimana kalau ada saudara perempuanmu ada yang menzinahi ? setelah itu Rasulullah mendoakan orang tersebut sambil diusap dadanya dan orang yang mempunyai keinginan berjina itupun berkata “ kalau sebelumnya saya sangat ingin zina maka sekarang saya sangat tidak ingin berzina!”Ini sebuah teknik yang luar biasa sekali yang diajarkan Rasulullah, yaitu dengan membayangkan bagaimana  andaikata hal maksiat itu menimpa saudara kita sendiri.Misalkan ada seorang laki-laki yang berselingkuh kepada istri orang lain, salah satu cara untuk menghentikannnya adalah dengan membayangkan bagaimana jika istri kita diselingkuhi, perasaan kita seperti apa? Naudzubillahi min dzalik, lalu bagaimana jika anak kita diselingkuhi ?, Naudzubillah. Jadi kalau kita memiliki keinginan seperti pemuda tadi yang ingin  berzina, bayangkanlah jika istri kita dizinahi, anak perempuan kita dizinahi, pasti kita akan sangat marah.

Maka dengan bersikap seperti teknik diatas akan menjadi sebuah energi untuk menghentikan niat buruk kita, kalau kita ingin mengambil hak orang lain bayangkanlah jika hak kita diambil.Kalau kita berbuat tidak baik kepada orang lain, bayangkanlah kalau hal itu menimpa diri kita, menimpa keluarga kita, menimpa anak-anak kita, pasti kita tidak akan mau, maka orang lain pun pasti tidak mau dengan perbuatan kita itu, kemurkaannya merupakan upaya untuk mencegah kita dari berbuat maksiat.

Jika kita tidak ingin dihina karena dihina itu tidak enak, maka kita jangan menghina orang lain, memang butuh waktu untuk latihan  mengendalikan diri, mengendalikan seni berpikir agar pikiran kita menjadi pikiran yang dapat mengerem, tapi kalau tidak dilatih akan lewat begitu saja dan kembali mengulang-ulang maksiat yang kita lakukan, Naudzubillahi min dzalik.

Untuk mencegah dari berbuat maksiat maka kita harus memperbanyak dzikir, dan memperkuat ibadah, shalat harus terus diperbaiki, tahajud dilakukan dengan lebih baik dan shaum dipertahankan, karena jika dzikir kita lemah maka nafsu yang akan bertambah, jika dzikir kita lemah maka amarah dan syahwatlah yang akan meningkat.

Itulah beberapa trik sederhana yang mudah-mudahan akan membuat kita lebih dekat dengan rem yang akan mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar. Wallahu a’lam

Minggu, 02 Januari 2011

Cara Agar Tidak Terjerumus Maksiat

Sebagai manusia normal baik laki-laki maupun perempuan memiliki kebutuhan biologis dasar yang tidak bisa dipungkiri yaitu kebutuhan akan hubungan seks. Untuk yang sudah dewasa dan sudah menikah mungkin terasa mudah untuk mendapatkan kebutuhan yang satu ini. Akan tetapi untuk yang masih abg dan remaja akan sangat berbahaya apabila tidak mampu nafsu birahi yang menggelora yang siap meledak-ledak kapan saja.

Pria maupun wanita yang belum menikah harus mengetahui bagaimana cara untuk mengendalikan nafsu seksualnya agar terhindar dari berbagai dampak buruk ketidakmampuan menahan nafsu birahi. Banyak yang telah terjerumus dalam kehancuran akibat dari gagal menahan nafsu yang harus ditanggung seumur hidup. Sangat disarankan bagi orang-orang yang sudah cukup umur bersegera untuk menikah sah secara agama dan hukum pemerintah.

Berikut ini adalah beberapa cara untuk menghilangkan/mengendalikan hawa nafsu seks seseorang apabila tidak punya pasangan yang sah suami atau isteri :

Hilangkan/Singkirkan Pikiran Kotor
Jangan suka melamun memikirkan yang tidak-tidak dengan lawan jenis. Pikiran yang kotor dapat membangkitkan gairah seksual kita walaupun hanya dengan membayangkan sesuatu. Ubah pikiran yang mulai kotor dengan memikirkan sesuatu yang lain yang lebih penting dan serius.

Hindari Menikmati/Melihat Yang Porno dan Vulgar
Jangan sampai kita memiliki materi-materi atau pun berusaha mengakses hal-hal yang cabul, vulgar, porno, dan lain sebagainya seperti membaca cerita panas, melihat gambar telanjang, nonton film porno, dan lain-lain.

Batasi Hubungan Dengan Lawan Jenis
Jangan terlalu banyak berkomunikasi dengan lawan jenis kita terutama yang dari penampilan fisik dan gayanya dapat membangungkan nafsu kita untuk memiliki atau sekseder merasakan kehangatan dari dirinya. Terlalu dekat dengan lawan jenis bisa memicu pikiran kotor.

Perbanyak Kegiatan Yang Menguras Tenaga dan Waktu
Ikutlah ekstrakurikuler, kursus, bimbingan belajar, les, kelompok olahraga, club bikers, pekerjaan sambilan, pekerjaan tambahan dan lain-lain. Dengan sibuk dengan berbagai aktivitas dapat menyebabkan kita lelah untuk berpikir kotor.

Rajin Puasa dan Ibadah
Dengan taat beribadah dan rajin puasa maka otomatis kita akan sangat terlarang untuk melakukan hal yang melanggar kesusilaan. Berpikir kotor saja tidak apalagi melakukan hal-hal yang dilarang agama yang dosa besar apabila dikerjakan.

Tidak Pacaran
Pacaran sangat mengundang untuk melakukan kontak fisik baik yang cewek maupun yang cowok, yang mungkin awalnya hanya pegang-pegangan tangan lalu menjadi hubungan fisik yang lebih parah. Sebaiknya jangan pacar-pacaran dulu kalau tujuan kita hanya sekedar iseng-iseng saja.

Rajin Bersosialisasi Dengan Teman dan Keluarga
Memiliki hubungan yang sehat dan dekat dengan teman-teman dan keluarga besar kita akan membuat kita bisa meredakan birahi hanya dengan berkomunikasi dengan mereka. Apalagi dengan yang masih anak-anak atau abg pasti lebih sibuk lagi (jenis kelamin sama).

Selalu Berpikir Efek Dampak Buruknya
Apabila kita mengetahui keburukan-keburukan dari hubungan seks bebas tanpa ikatan pernikahan maka kita akan merasa takut untuk melakukannya. Lagipula hubungan intim kalau enaknya hanya sebentar saja, penuh resiko, dosanya besar sekali, merusak rumah tangga orang, merusak nasib kita dan orang lain buat apa.

Membuat Prinsip
Dengan prinsip hidup yang bersih tidak mau melakukan hal-hal yang memanjakan hawa nafsu akan memperkuat benteng pertahanan kita dalam meredakan syahwat yang ada pada diri kita. Tetap konsisten dalam menjaga prinsip hidup kita jangan mudah terpancing untuk melanggarnya.

Main Sendiri (Sangat Tidak Direkomendasikan)
Onani atau masturbasi merupakan jalan pintas terbaik bagi yang tidak bisa menahan nafsu pribadi dengan jalan memberi kepuasan bagi diri sendiri. Cara ini dilarang agama, membuat kecanduan, solusi jangka pendek dan bisa merusak hubungan dengan pasangan yang sah di kemudian hari.


Saat belum menikah tahanlah nafsu kita sekuat tenaga dan hindari berbagai peluang kita untuk melampiaskan nafsu tidak pada tempatnya. Telah dibahas dalam situs web organisasi.org ini tentang dampak buruk hubungan seks pranikah yang amat sangat menyeramkan. Dengan mampu menahan nafsu kita, maka kita telah menjadi manusia yang seutuhnya.

Kamis, 30 Desember 2010

Memanfaatkan Sisa Umur

Setiap pergantian hari, minggu, bulan atau tahun kita selalu merenung bahkan berfikir apa yang telah kita kerjakan barusan, apa yang kita peroleh dari rutinitas yang baru kita kerjakan.

Kita di beri jatah waktu yang sama, 24 jam sehari. Tetapi, kadang hasilnya bisa berbeda-beda/ ada yang sangat beruntung ada juga yang tidak mendapatkan apa-apa alias merugi. Itu akan terlihat bila waktu telah kita lewati

Namun sesungguhnya bahwa satu-satunya yang tidak bisa direm adalah waktu. Setiap orang punya jatah yang sama. Orang yang nilainya baik dan tidak baik di sekolah/dikampus atau pun dalam pekerjaannya, sebenarnya memiliki kesempatan belajar yang sama. Sebab waktu yang dimiliki pun sama yaitu 24 jam. Semuanya tergantung pada kemapuan mengatur waktu.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal solih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” QS. Al Ashr; 1-3

Dari ayat tersebut bahwa setiap manusia yang terus “bertambah umurnya” akan merugi kecuali orang yang meiliki kemampuan memanfaatkanya. Berapapun usia kita saat ini, sebenarnya sisa umur kita, ternyata tetaplah sangat sedikit. Karena kita tidak tinggal di dunia ini, melainkan hanya sebentar saja.

Menyadari akan hal ini, maka sekali-kali jangan sia-siakan sisa umur kita yang tinggal sedikit ini dengan berbagai kegiatan yang tidak bermanfaat, seperti: tidak tidur semalaman hanya karena larut dalam bermain “game” di komputer kesayangan, ‘ngobrol tak tentu arah hingga berjam-jam, dll. Apalagi sampai bermaksiat kepada

Selasa, 21 Desember 2010

Menjaga Keimanan

.
Kadang kita setiap menjumpai peristiwa kejadian yang sekiranya tidak sesuai dengan nurani kita atau tidak sesuai norma sosial akan terucap
"dasar ga punya iman". Iman di sina bukanlah sebeutan nama seseorang tetapi merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan secara satu kesatuan. Iman memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan dan perbuatan sama dalam satu keyakinan, maka orang – orang beriman adalah mereka yang didalam hatinya, disetiap ucapannya dan segala tindakanya sama, maka orang beriman dapat juga disebut dengan orang yang jujur atau orang yang memiliki prinsip. atau juga pandangan dan sikap hidup.

Sayangnya banyak diantara kita hanya mampu memiliki iman dalam tingkatan diucapkan dengan kata-kata, mungkin juga sedikit diatas dengan telah meyakini dalam hati namun belum mampu membuktikannya dengan perbuatan. Seringkali perbuatan yang kita lakukan tak seseuai dengan apa yang kita imani.

Memang berat untuk mewujudkan iman yang benar benar sempurna namun kita tetap harus berusaha untuk meningkatkan keimanan kita. Keimanan yang dimiliki seseorang akan selalu berubah terkadang naik dan terkadang turun. Bahkan dijaman yang serba modern ini keimanan kita selalu tergoda untuk cenderung turun. Banyaknya kemaksiatan dan kemungkaran yang dilakukan dengan terang terangan mendorong dan mempengaruhi kita untuk menjadi lemah iman. Bahwa dengan menjaga iman berarti kita harus menjaga segala apapun yang mempengaruhinya. Berarti kita harus menjaga akhlak kita dan segala tingkah laku kita agar Iman kita tetap terjaga bahkan semakin meningkat.

Keimanan manusia tidak selamanya bisa berjalan pada satu garis lurus.. Ada kalanya keimanan itu naik tapi ada kalanya turun.. begitu juga pada saat penerapan dan pelaksanaan akidah agama. Ada kalanya malas dan ada kalanya terlalu rajin.. Gimana sih cara menjaga iman kita agar tetap stabil? Trus gimana juga cara menjaga hati kita agar tetap bersih dan bisa mempunyai hati seluas samudera yang bisa ikhlas menerima apapun yang terjadi dengan mengharap ridha’ Allah…mungkin ini yang bisa kita lakukan :

1. Menumbuhkan pemahaman yang benar tentang Islam.

Seperti Firman Alloh
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim : 24-25).

sehingga agar aqidah dan pemahaman Islam ini menjadi kuat dan tegak, haruslah ditanam dengan benar agar akar-akarnya benar-benar menghujam ke bumi. Batangnya akan kuat menahan gempuran sebesar apapun. Dalam hal ini adalah sistem pembinaan yang menekankan kedalaman aqidah dan keaslian ajaran Islam serta kemampuan untuk dapat mengakses langsung sumber-sumber Islam dari mata airnya menjadi sesuatu yang mutlak untuk dilakukan.

2. Selalu mengaitkan semua kejadian dan pengalaman hidup kepada Allah

Agar iman ini benar-benar menyatu dalam jiwa, maka kita perlu menjadikan iman sebagai kacamata kehidupan sehari-hari dengan tidak membiarkan satu tititk pun dalam kehidupan kita yang tidak dirambah dengan pendekatan syar`i.

Untuk itu kita harus selalu menghadirkan Allah dalam setiap langkah dan aktifitas kita. Realisasinya adalah selalu menjadikan syariat Islam sebagai format berpikir, memandang dan bertindak dalam setiap sendiri kehidupan sehari-hari.

3. Bergaul dengan sesama orang beriman

Bersahabat. Bergaul dan bersahabatlah sebanyak dan sesering mungkin dengan sesama orang yang memiliki iman. Dahulukan iman, ibadah, ilmu dan amal shalih sebagai kriteria kita memilih atau tidak memilihnya menjadi teman apalagi shabat karib. Bila bergaul dengan orang yang masih lemah iman, atau bahkana kafir, pasanglah niat yang kuat, bahwa Anda bergaul dengannya dengan tujuan membagi kelezatan iman yang sudah kita rasakan. Kalau ditawari yang lezat-lezat dia menolak, ya tak usah buang – buang waktu menjadi temannya. Karena kata Nabi, di akhirat kita akan di hidupkan bersama dengan teman kita semasa hidup. Wallaahu a’lam bishshawwab. Pepatah mengatakan kalau kita bergaul dengan seorang pandai besi maka kita akan kebagian kotornya tetapi kalau kita bergaul dengan penjual minyak wangi maka kita akan kebagaian harumya.

4. Selalu mengingat mati dan hari kiamat

Mahatma Gandhi pernah berkata "Carilah duniamu seolah kamu akan hidup selamanya dan Carilah Akhirat seolah kamu akan mati besok. Ini mempunyai makna luas, agar setiap waktu dalam beraktifitas harus seimbang antara keidupan dan kematian dan tentunya adanya hari pembalasan di akhir nanti.

5. Mengutamakan Sholat 5 waktu

Aturlah Agenda harian Anda berdasarkan rotasi 5 waktu shalat. Rancanglah semua agenda kerja dan kegiatan sedemikian rupa, yang membuat Anda sudah berada di tempat menunaikan shalat dalam keadaan berwudhu minimal 15 menit sebelum adzan berkumandang. Rasakan berkah demi berkah akan di limpahkan kepada Anda.

6. Berinfaq dan bershadaqah.

Apapun bentuk harta yang Anda miliki, itu sepenuhnya hak Allah. Gunakan harta itu sesuai kehendak pemiliknya yang sejati. Perbanyak Shadaqah dan berinfaq untuk menunjukkan kepada Allah, bahwa harta yang ada pada kita sama sekali tidak mengganggu kesadaran kita, ” Bahwa ini semua milik Engkau ya Allah “.

7. Segera berhenti dari dosa sebelum terlambat

Seseorang tidak akan luput dari perbuatan Dosa walaupun kadang kita sangat berhati-hati. Apalagi di jaman sekarang dimana moral tidak lagi menjadi pedoman hidup, Manusia bebas melakukan apa saja dengan mengatasnamakan HAM.

8. Tidak over dalam bertindak

Berbuat tanpa kontrol yang baik akan mudah terperosok ke perbuatan yang nista apalagi demi gengsi atau semacamnya, agar kita bisa dikatakan wah, hebat dsb

9. Berdoa agar selalu dikuatkan iman dan istiqamah

Yang jelas selalu berdoa, menjalankan kewajiban sebagai muslim tidak neko-neko itu lebih dari cukup untuk kita menjadi bijak..

10. Berpuasa.

Lakukanlah puasa sunnah sebanyak mungkin, karena orang yang berpuasa doanya langsung di kabulkan Allah. Sedangkan doa adalah senjata utama orang Mu’min.

Mungkin itu sedikit tip dari kami kalau ada salah tulisan mohon di maafkan...

Selasa, 23 November 2010

Kiblat Bagi Umat Muslim

.
Diriwayatkan dari Al Bara r.a. : ketika Nabi Muhammad Saw. Datang ke Madinah, pada awalnya dia tinggal bersama kakek kakeknya atau paman paman dari ibunya dari pihak Anshar.

Selama enam belas atau tujuh belas bulan Nabi Muhammad Saw. Mendirikan shalat dengan menghadapkan wajahnya ke arah Bayt Al Maqdis (Yerusalem), beliau sebenarnya ingin shalat menghadap ke arah Ka’bah, kemudian turunlah wahyu yang memerintahkan ia menghadapkan wajahnya ke arah Ka’bah. Shalat asar yang dilakukan berjamaah adalah shalat pertama Rasulullah SAW ke arah Ka’bah. Salah seorang yang ikut shalat asar berjamaah bersama Rasulullah SAW kemudian pergi ke sebuah masjid tempat orang-orang tengah melaksanakan shalat dengan menghadapkan wajahnya ke arah Yerusalem.

Lalu orang itu memberitahu mereka.”demi Allah SWT, aku bersumpah bahwa aku telah melaksanakan shalat bersama Rasulullah SAW dengan menghadapkan wajah ke arah Ka’bah.” (mendengar hal itu) mereka segera mengubah arah kiblat mereka.

Orang-orang yahudi dan ahli kitab yang pada mulanya merasa senang karena kiblat shalat Rasulullah SAW adalah Yerusalem kecewa ketika Rasulullah SAW mengubah kiblat shalatnya ke arah Ka’bah.

Jumat, 12 November 2010

Nikmatnya Ibadah Haji

.
Melaksanaka ibadah haji adalah merupakan rukun Islam yang ke lima, dan salah satu kewajiban dalam Islam, seperti firman Allah dalam al-Quran:

"…Mengerjakan haji itu adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (ke-wajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS. Ali 'Imran: 97)

Dan di perkuat Sabda Nabi SAW:

"Islam dibangun di atas lima perkara; bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang haq kecuali Allah, dan bersaksi bahwasanya Muhammad adalah Rasul utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah." (Hadits shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Kendati ibadah haji telah ada sejak masa Nabi Ibrahim, bagi umat Islam, ia baru diwajibkan pada tahun 6 H. walau begitu, Nabi Saw dan para sahabat belum dapat menjalankan ibadah haji karena saat itu Mekkah masih dikuasai kaum musyrik. Setelah Nabi Saw menguasai Mekkah (fathul Mekkah) pada 12 Ramadan 8 H, sejak itu beliau berkesempatan beribadah haji.

Namun Nabi Saw tidak beribadah haji pada 8 H itu. Juga tidak pada 9 H. Pada 10 H, Nabi Saw baru menjalankan ibadah haji. Tiga bulan kemudian, Nabi Saw wafat. Karenanya, ibadah haji beliau disebut haji wada' (haji perpisahan). Itu artinya, Nabi Saw berkesempatan beribadah haji tiga kali, namun beliau menjalaninya hanya sekali. Nabi Saw juga berkesempatan umrah ribuan kali, namun beliau hanya melakukan umrah sunah tiga kali dan umrah wajib bersama haji sekali. Mengapa?

Sekiranya haji dan atau umrah berkali-kali itu baik, tentu Nabi Saw lebih dahulu mengerjakannya, karena salah satu peran Nabi Saw adalah memberi uswah (teladan) bagi umatnya. Selama tiga kali Ramadlan, Nabi Saw juga tidak pernah mondar-mandir menggiring jamaah umrah dari Madinah ke Mekkah.

Meski negeri ini mengalami krisis berkepanjangan, jumlah jam’ah haji Indonesia tetap banyak setiap tahunnya. Bila mereka yang baru pulang dari tanah suci ditanya apakah Anda ingin kembali lagi ke Mekkah, hampir seluruhnya menjawab, “ingin”. Hanya segelintir yang menjawab, “Saya ingin beribadah haji sekali saja, seperti Nabi Saw”.

Jawaban itu menunjukkan antusiasme umat Islam Indonesia beribadah haji. Sekilas, itu juga menunjukkan nilai positif. Karena beribadah haji berkali-kali dianggap sebagai barometer ketakwaan dan ketebalan kantong. Asal jangan salah niat...

Tetapi ada sebagaian orang mereka mampu dalam finansial tetapi kalau di tanya selalu menjawab "belum ada panggilan" orang seperti ini perlu di pertanyakan..

Disisi lain Orang begitu menggebu untuk dapat melaksanakan Ibadah Haji dengan berbagai cara, yang penting bisa melaksanakan, bahkan berita yang terbaru jumlah kuota tidak mencukupi lagi dan harus menunggu beberapa tahun ke depan agar bisa berangkat haji...
.

Kamis, 04 November 2010

Hikmah Idul Adha


Baru saja kita merayakan Idul Fitri sebulan lalu, sebulan kedepan kita akan memasuki hari raya Idul Adha yang tidak kalah pentingnya bagi umat Islam di seluruh jagad ini, disitulah Allah SWT menjanjikan pahala yang luar biasa. Hari raya besar ini lazim ditandai dengan adanya penyembelihan hewan kurban, disitulah terdapat kisah ketulusan dua manusia yang sangat sabar dan taat pada Allah yang patut di jadikan tauladan bagi kita semua. Kisah yang begitu mengharukan dari seorang hamba Allah yang taat yaitu Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail yang begitu sabar dan patuh pada perintah Sang Khalik, Allah SWT, yang untaian kisahnya begitu indah dilukiskan dalam Al Quran surah Ash-Shafat ayat 102-105 yang artinya

'Maka ketika anak itu sampai pada umur dewasa yakni sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku yang kusayang, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah, bagaimana pendapatmu. 'Dia (Isma'il) menjawab,'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatkanku termasuk orang yang bersabar. 'Maka setelah keduanya bertekad bulat dalam berserah diri (kepada Allah) dan dibaringkan pipi (Isma'il) di atas tanah. Kemudian kami berseru kepadanya, 'Hai Ibrahim, engkau telah benar-benar melaksakan perintahKu dalam mimpi itu. Demikianlah sesungguhnya Kami membalas orang-orang yang berlaku baik. '

Memang ketika diamati secara sekilas kisah ini sungguh tidak masuk akal ”bagaimana mungkin seorang ayah yang baik akan menyembelih anaknya sendiri yang sangat salih dan sangat beliau cintai”, semua orangtua saya yakin tak ada yang akan melakukan hal itu, namun itulah cobaan yang diberikan Allah pada Nabi-Nya untuk menguji kecintaannya pada Allah SWT.

Inilah yang membedakan antara cobaan seorang Nabi dengan manusia biasa. Dengan keteguhan iman dan cinta mereka berdua akhirnya berhasil dari cobaan yang amat berat ini, walau berkali-kali setan selalu menghadang untuk menghalang-halangi.

Dari penggalan sejarah diatas, maka sebagai manusia kita bisa mengambil pelajaran yang amat mulia yaitu pentingnya taat kepada Allah dan berbakti kepada orangtua, dua hal ini yang menjadi motivasi bagi Nabi Ismail di usianya yang waktu itu baru menginjak dewasa. Namun, usia dini tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk bisa bersikap dewasa.

Pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan putranya Isma'il AS digambarkan Allah SWT sebagai ujian keimanan yang nyata sebagai mana Firman-Nya dalam surah Ash-Shafat ayat 106 yang artinya 'Sesungguhnya ini merupakan uji coba yang nyata.'Dan dalam lanjutan kisah penyembelihan ini Allah SWT Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang menggantikan Nabi Ismail dengan sembelihan dari syurga yakni seekor kibas yang besar yang dahulu dikorbankan oleh Habil, putra Nabi Adam AS sebagaimana Firman Allah dalam surah Ash-Shafat 107 yang artinya,'Kami tebus anaknya itu dengan sembelihan besar (seekor domba/kibas).'

Dari peristiwa tersebut dapat kita ambil hikmahnya, yaitu hanya kepada Allah SWT segenap cinta kita curahkan karena Rahmat dan Nikmat-Nya kita terima setiap waktu dan saat yang tiada terhitung banyaknya sekalipun kita gunakan air laut sebagai tintanya dan seluruh rantai pepohonan sebagai penanya; Maka niscaya akan keringlah seluruh lautan dan habislah semua pepohonan sementara nikmat Allah masih banyak yang belum kita tuliskan. Cinta kepada Allah akan berimplikasi pada keikhlasan dan kepatuhan kita dalam menjunjung tinggi perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.

Dan Hanya kepada Allah kita persembahkan segala puji sekali pun pada kenyataannya banyak manusia yang suka dipuji bahkan tidak jarang minta dipuji; karena kepada hakekatnya hanya Allah Yang Maha Suci Lagi Maha Tinggi. Bukankah kita senantiasa melafazkan ayat Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin Yang artinya segala puji hanya milik Allah Tuhan seluruh sekalian alam?

Hanya kepada Allah SWT kita berserah diri amal ibadah yang kita dirikan siang dan malam, Dzikir yang kita lafadzkan pagi dan petang yang didasari dengan niat ikhlas tanpa mengharapkan pujian dari makhlukNya, pada akhirnya akan kita persembahkan kepada Allah sebagai wujud pengabdian hamba kepada Rab-Nya. Bukankah setiap hari kita berikrar dalam doa Iftitah pada shalat yang kita dirikan bahwa 'Sesungguhnya shalatku dan semua ibadahku, dan hidupku dan matiku hanyalah buat Allah Tuhan Seluruh sekalian alam. 'Karenanya perayaan Idul Adha sudah kita jadikan momentum untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT menjunjung tinggi segala perintahnya, menjauhi semua larangan-Nya, senantiasa berserah diri pada-Nya dan mengharap ampunan serta Ridha-Nya

Sehingga dengan peristiwa Idul Adha, semoga menjadi momen penyadar dan penggugah bagi semua manusia dan remaja khususnya. Bahwa hidup adalah sebuah pengorbanan, kehidupan dunia bukanlah akhir dari kehidupan, tetapi sebagai bekal untuk menuju kehidupan yang kekal di akhirat nanti.

Pesan yang terkandung dalam Idul Adha bukan hanya sekedar anjuran menyembelih hewan kurban, kemudian dibagikan kepada orang-orang miskin dan kepada siapa saja yang membutuhkan, tetapi banyak pesan yang tersirat dari simbol seremonial itu, diantaranya anjuran menjadi orang yang mampu atau kaya yang ihklas menyedekahkan sebagian hartanya untuk orang-orang miskin (dengan berkorban), anjuran untuk saling menyayangi diantara si kaya dan si miskin, anjuran untuk saling tolong-menolong dan menjadi orang yang selalu siap berkorban demi mengutamakan kepentingan agama dan bangsa.