Cari Blog Ini

Kamis, 19 Juni 2014

Menjadi Pemimpin yang Baik dan Amanah



Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan bahwa seorang pemimpin yang adil adalah seorang yang mengikuti perintah Allah dengan meletakkan sesuatu pada tempatnya tanpa berlebihan dan tidak pula meremehkan, maka dialah yang termasuk di antara yang mendapatkan perlindungan Allah pada hari kiamat pada hari yang tiada naungan kecuali naungannya, dan bahwa dia termasuk diantara ahli surga, sebagaimana yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

”Ada tujuh golongan yang Allah beri naungan pada hari kiamat di bawah naungan-Nya dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: seorang pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, seorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri lalu berlinang air matanya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, seorang lelaki yang dirayu oleh seorang wanita berkedudukan dan berparas cantik lalu ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikerjakan oleh tangan kanannya.”

Dan dikeluarkan pula oleh Imam Muslim dalam shahihnya dari ‘Iyyadh bin Himar al- mujasyi’i bahwa Rasululullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

 “Penduduk suurga ada tiga golongan: penguasa yang adil, bersedekah dan mendapat taufik, dan seorang yang pengasih, berhati lembut kepada setiap kerabat dan setiap muslim, seorang yang miskin dan memelihara kehormatannya (merasa cukup dengan apa yang ada), dan memiliki tanggungan keluarga.”

Pemimpin yang adil adalah yang bijaksana dalam kepemimpinannya, dan seorang penguasa yang adil tidak tertolak do’anya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam sunan-nya dari hadits Abu Hurairah berkata: bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:

 “Tiga golongan yang tidak ditolak do’anya: orang yang berpuasa hingga dia berbuka, seorang pemimpin yang adil, dan do’anya orang yang terdzalimi, Allah mengangkatnya di atas awan dan membukakan baginya pintu-pintu langit, dan Allah berfirman: “Demi kemuliaan-Ku, aku pasti akan menolongmu kapan saja.” (Riwayat ini dilemahkan Al- Allamah Al-Albani dalam silsilah al-ahadits adh-dho’ifah:jil:3, no: 1358. -Pent.)

Pada zaman sekarang semakin ramai orang berlomba-lomba mengejar jabatan, berebut kedudukan sehingga menjadikannya sebagai sebuah obsesi hidup. Menurut mereka yang menganut paham atau prinsip ini, tidak lengkap rasanya selagi hayat dikandung badan, kalau tidak pernah (meski sekali) menjadi orang penting, dihormati dan dihargai di lingkungan kelompoknya/masyarakat. 

Jabatan baik formal maupun informal di negeri kita Indonesia dipandang sebagai sebuah "aset", karena ia baik langsung maupun tidak langsung berkonsekwensi kepada keuntungan, kelebihan, kemudahan, kesenangan, dan setumpuk keistimewaan lainnya. Maka tidaklah heran menjadi kepala dari mulai supervisor, manajer, derektur, bupati, walikota, gubernur, presiden, anggota dewan dan sebagainya merupakan impian dan obsesi semua orang. 

Mereka berebut mengejar jabatan tanpa mengetahui siapa sebenarnya dirinya, bagaimana kemampuannya, dan layakkah dirinya memegang jabatan (kepemimpinan) tersebut. Parahnya lagi, mereka kurang (tidak) memiliki pemahaman yang benar tentang hakikat kepemimpinan itu sendiri. Karena menganggap jabatan adalah keistimewaan, fasilitas, kewenangan tanpa batas, kebanggaan dan popularitas. Padahal jabatan adalah tanggung jawab, pengorbanan, pelayanan, dan keteladanan yang dilihat dan dinilai banyak orang.

Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang pemimpin. Kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt. Lihat Q. S. Al-Baqarah (2): 124,

"Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan (amanat), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia. Ibrahim bertanya: Dan dari keturunanku juga (dijadikan pemimpin)? Allah swt menjawab: Janji (amanat)Ku ini tidak (berhak) diperoleh orang zalim".

Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah swt, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab dalam organisasinya atau melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan kemampuan dalam memimpin tentunya sesuai lingkup kekuasaanya. Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.

Karena itu pula, ketika sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: "Kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian (bila disia-siakan)".(H. R. Muslim).
 
Sikap yang sama juga ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimana orang itu berkata: 

"Ya Rasulullah, berilah kepada kami jabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu. "Maka jawab Rasulullah saw: "Demi Allah Kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu".(H. R. Bukhari Muslim).
Kepemimpinan adalah keadilan. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan. Diantara bentuknya adalah dengan mengambil keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurus dan melayani semua lapisan di bawahnya tanpa memandang siapa dia, dari mana dia dan latar belakang. Lihat Q. S. Shad (38): 22,

"Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu".

Jadi kalau ada pemimpin yang pilih kasih hanya karena suka dan tidak suka. Tipe pemimpin seperti ini biasanya mempunyai sifat penjilat dalam arti dia mendapatkan kekuasaanya dengan cara menjilat atau cari muka dan itu akan berpengaruh dalam memilih pemimpin di bawahnya. Sudah pasti yang dipilih adalah orang orang yang bisa mendekati dirinya tanpa melihat kemapuanya. Maka jangan heran kalau gaya kepemimpinan seperti itu akan menghasilkan divisa yang rapuh dan lemah…

Benar atau tidak silahkan di cerna sendiri…

Selasa, 13 Mei 2014

Celana Cingkrang

Semakin hari, rasanya semakin banyak orang yang bercelana cingkrang atau ngatung. Maksudnya memakai celana panjang tetapi di atas mata kaki, tidak melewati ke dua mata kaki. Di Ciracas misalnya, banyak remaja – remaja berseragam dengan celana cingkrang. Demikian juga di seputar Cipinang. Atau juga yang sering saya lihat di sekitar Cibubur - Munjul. Mereka memang rata – rata anak – anak sekolahan, baik SMP maupun SMA. Di tempat – tempat umum juga sama. Rupanya kesadaran berbusana yang benar sudah mulai dimengerti. Dugaan saya kalau di sekolahan memang akan lebih gampang, jika itu diterapkan sebagai aturan sekolah. Di luar institusi tentu akan berbeda, kecuali memang mempunyai pemahaman yang benar tentangnya.
Beberapa minggu yang lalu saya sibuk memendekkan celana. Ada dua potong celana saya yang saya kirim ke penjahit untuk dipendekkan. Bukan celana baru sih, tetapi celana yang sempat membuat saya risih. Sampai – sampai seorang teman berseloroh, “Sudah tua kok masih nambah terus tingginya ya Mas? Bukannya biasanya tumbuhnya ke samping? Tapi kok celananya dipendekin lagi.” Saya hanya mesem menanggapinya.

Ceritanya, itu celana memang sudah di atas mata kaki. Berhubung lingkar pinggang menyusut, setiap kali pakai selalu mlorot. Daripada repot – repot terus ngurusi celana (mengangkat dan menyingsingkan celana), maka keluarlah inisiatif dipendekkan saja. Sebenarnya waktu bikin dulu sudah dibuat di atas mata kaki, tetapi kenapa penjahitnya ketakutan kalau salah, hasilnya ngepress banget. Pas di atas mata kaki. Baru sekarang setelah dipotong lagi, nyaman pakainya. Meminjam istilah quran:hanii’an marii’a. Nggak segitunya…kali! Yah saking bahagianya, bercelana cingkrang.

Walau sudah bertambah banyak peminatnya, sejatinya masih banyak yang belum tahu atau keberatan dengan model cingkrang ini. Untuk itu, kali ini saya mencoba untuk menyajikan kembali dasar hukumnya. Dan sepanjang hemat saya inilah yang menjadi kendala khalayak.

Dari Ibnu Umar ra, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Barangsiapa memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” Kemudian Abu Bakar ra bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sarungku melebihi mata kaki, kecuali aku menyingsingkannya.” Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, “Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” (HR. Al-Bukhari dan sebagiannya diriwayatkan Muslim)

Hadits ini yang banyak dijadikan hujjah untuk boleh bercelana nglembreh; yang penting tidak sombong. Padahal kalau mau lebih cermat lagi, kunci hadits di atas adalah perkataan Abu Bakar menyingsingkan. Namun kalau masih bersikukuh asal tidak sombong bolehlah. Daripada bertengkar, coba kita tengok yang satu ini.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: "Suatu ketika ada seseorang shalat dengan memanjangkan kain sampai di bawah mata kaki. Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepadanya, "Pergilah dan berwudhulah." Lalu ia pergi dan berwudhu. Kemudian ia datang dan Nabi bersabda, "Pergilah dan berwudhulah." Kemudian ada seorang laki-laki bertanya kepada beliau, "Ya Rasulallah, kenapa Anda menyuruhnya untuk berwudhu lalu Anda diamkan?" Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "Karena ia shalat dengan memakai kain sampai di bawah mata kaki; Sesungguhnya Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang memakai kain sampai di bawah mata kaki." (HR. Abu Dawud dengan isnad Shahih sesuai syarat Muslim)

Nah, kalau sholatnya tidak diterima karena celana nglembreh, terus bagaimana? Padahal semua tahukan, sholat adalah amalan paling pol dan pertama ditanya nanti di hari Qiyamat. Gara – gara kita memakai pakaian nglembreh terus sholat gak diterima, wassalam sudah. Bagi yang penasaran boleh juga membaca komentar Imam al-Buwaithi dari al-Syafi’i dalam Mukhtasharnya. Ia berkata, “Isbal dalam shalat maupun di luar shalat karena sombong dan karena sebab lainnya tidak diperbolehkan. Ini didasarkan pada perkataan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu.” Wuih teges banget imam ini. Di sudut sana ada yang berkilah, kan kalau sholat dilinting (dinaikkan) celananya? Baik, kita baca yang satu ini.

Dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,"Kain (sarung/pakaian) seorang muslim adalah sampai pertengahan betis. Dan tidaklah berdosa jika ada di antara betis dan dua mata kaki. Adapun yang sampai di bawah kedua mata kaki, maka ia berada di neraka. Siapa yang menjulurkan kainnya di bawah mata kaki dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya." (HR. Abu Dawud dengan isnad shahih)
Berhubung hadits ini masih ada kata – kata sombong, maka terkesan kurang afdhol. Karena akan mirip dengan yang atas. Sekarang kita simak yang singkat ini.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda,"Apa-apa yang berada di bawah mati kaki itu berada dalam neraka." (HR. Al-Bukhari).

Nah, kalau tiga hadits ini belum menyentuh hati, ya sudah. Gak apa – apa. Hidup adalah pilihan, dalam arti semua nanti akan dipertanggungjawabkan masing – masing. Tidak perlu kita geger masalah cingkrang ini, cukup tahu sama tahu. Kalau mau mengikuti ya syukur, kalau tidak ya diri sendirilah yang menentukan.  Bahkan Imam Muslim dalah Shahihnya menerangkan dengan tegas larangan/haramnya isbal (menjulurkan kain di bawah mati kaki) ini.
"Bab: Keterangan beratnya keharaman menjulurkan kain (di bawah mata kaki;- disebut Isbal-), mengungkit-ungkit pemberian, menjual barang dagangan dengan sumpah palsu adalah tiga golongan yang mereka tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat mereka dan menyucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih."

Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda: "Tiga orang yang bakal tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat dan menyucikan mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih." Abu Dzar berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam membacanya sebanyak tiga kali". Abu Dzar berkata,"Kecewa benar mereka dan sangat merugi. Siapakah mereka itu ya Rasulallah?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang menurunkan kain di bawah mata kaki (musbil), orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya (al-Mannan), dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu." (HR Muslim)

Yang jelas kini saya tambah gembira sebab semakin banyak orang yang bercelana cingkrang. Artinya semakin banyak orang yang tahu ilmu dan kebenarannya bahwa itu adalah aturan dan hukum islam. Bukan punyanya para ekstrimis atau teroris yang memang ketahuan pada cingkrang celananya. Tapi itu adalah sunnah untuk para pria. Dan lebih senang lagi ketika dapat menyebarkan kebenaran ini kepada yang lainnya.

Semoga Allah paring manfaat dan barokah...

Jumat, 09 Mei 2014

Pakaian di Bawah Mata Kaki ( nglembreh )

Sobat muslim masikah anda di cemooh, diledek dan dihina ?. Tidak usah berkecil hati kita yang paham dan tau hukumya berpakaian diatas mata kaki libih takut masuk Neraka di banding cuma memikirkan omongan mereka. Dengan berpakaian cingkrang kita masih bisa bergaya dan tentunya tidak kalah dengan artis-artis top papan atas dunia.
Peringatan bagi kaum Mu’min laki-laki agar tidak memanjangkan (nglembrehno = Jawa) pakaiannya sampai menutup mata kaki.
إِزْرَةُ الْمُؤْمِنِ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ ,
“Pakaian mukmin sampai separoh betis”, demikian sabda Nabi tertulis dalam Hadist Ibnu Majah No. 3573 Kitabullibas.
Apabila pakaian Muslimah harus menutup mata kaki tapi Allah murka pada laki-laki yang memanjangkan pakaiannya sampai menutup mata kakinya. Pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat pada orang yang nglembrehno pakaiannya, celana, sarung, baju qomis dan sebagainya hingga menutupi mata kakinya.

Lebih tegas lagi Rasulullah s.a.w. mengancam orang beriman yang pakaiannya menutupi mata kaki: “Apa-apa yang di bawah mata kaki maka ke NERAKA!”.
3569 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، ح وحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ، جَمِيعًا عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ الَّذِي يَجُرُّ ثَوْبَهُ مِنَ الْخُيَلَاءِ، لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
__________
[حكم الألباني] صحيح
… sesungguhnya Rasulalloh s.a.w bersabda: “Sesungguhnya orang yang memanjangkan pakaiannya sampai mata kaki, Allah tidak melihat padanya pada hari kiamat”.
3571 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: مَرَّ بِأَبِي هُرَيْرَةَ فَتًى مِنْ قُرَيْشٍ يَجُرُّ سَبَلَهُ، فَقَالَ: يَا ابْنَ أَخِي إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ مِنَ الْخُيَلَاءِ، لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
__________
[حكم الألباني] حسن صحيح
… Abi hurairah meriwayatkan: “Seorang pemuda Quraish lewat di depan Abi Hurairah, ia melembrehkan pakaiannya, Maka Abi Hurairah berkata: “ Wahai saudaraku, sesungguhnya saya mendengar Rasulallah s.aw. bersabda: “Barang siapa melembrehkan pakaiannya termasuk sombong, Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat”.
3572 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ مُسْلِمِ بْنِ نُذَيْرٍ، عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَسْفَلِ عَضَلَةِ سَاقِي – أَوْ سَاقِهِ – فَقَالَ: «هَذَا مَوْضِعُ الْإِزَارِ، فَإِنْ أَبَيْتَ فَأَسْفَلَ، فَإِنْ أَبَيْتَ فَأَسْفَلَ، فَإِنْ أَبَيْتَ فَلَا حَقَّ لِلْإِزَارِ فِي الْكَعْبَيْنِ» …
__________
[حكم الألباني] صحيح
… Hudhaifah meriwayatkan: Rasulullah s.a.w. mengenakan pakaian di bawah daging betisnya – maka beliau bersabda: Inilah posisi pakaian, jika keberatan boleh lebih bawah, jika keberatan boleh lebih bawah lagi, jika masih keberatan maka jangan sungguh-sungguh pakaian pada mata kaki”.
3573 – حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قُلْتُ لِأَبِي سَعِيدٍ: هَلْ سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا فِي الْإِزَارِ؟ قَالَ: نَعَمْ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِزْرَةُ الْمُؤْمِنِ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ، لَا جُنَاحَ عَلَيْهِ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ، وَمَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فِي النَّارِ» . يَقُولُ ثَلَاثًا: «لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا»
__________
[حكم الألباني] صحيح

… saya (Abdirohman bertanya pada ayahku Said: Adakah ayah mendengar sesuatu dari Rasulillah s.a.w. sesuatu tentang pakaian? Said menjawab: “Ya, saya mendengar Rasulalloh s.a.w bersabda: “Pakaian Mu’min sampai separoh betis, tidak dosa baginya diantara betis dan dua mata kaki, apa-apa yang di bawah mata dua mata kaki ke neraka”. Nabi bersabda tiga kali: “Allah tidak melihat pada orang yangmelembrehkan pakaiannya karena itu sombong”.

Sabtu, 29 Maret 2014

Menjual Kesedihan "Penjilat"



Sobat kita beruntung lahir dan besar di Negara Indonesia. Negara yang terkenal mempunyai unggah ungguh tata krama dan sopan santun tingkat tinggi. Karena inilah sifat unggulan penduduk bangsa Indonesia yang konon dikagumi oleh bangsa dan negara lain. Sadar atau tidak ini menjadi nilai lebih buat kita.

Semua itu terbukti dalam setiap peristiwa semisal dalam pemilihan presiden, Indonesia idol atau dalam kontes-kontes yang sifatnya poling. Mereka berlomba menunjukan pribadi yang sholehah…

Dalam pemilihan pemimpin seperti kepala daerah atau kepala pemerintahan sudah tidak diragukan lagi. Pengalaman yang terjadi di Negara kita orang yang sedikit dalam tekanan penguasa atau apalah namanya pasti akan mendapatkan simpati yang luar biasa. Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh para calon kontestan untuk mendapatkan simpati dengan menjual kesedihan seolah olah mereka teraniaya atau mengalami kehidupan yang getir. Kalau kita pernah melihat kompetisi yang sifatnya mencari bakat seperti Indonesia idol tidak sedikit para kontestas menceritakan pengalaman hidupnya bila perlu dengan menangis dengan tujuan mendapatkan belas kasian dari juri atau pendukungnya. Wallahu a’lam…….

Bagaimana kalau kita menjumpai prilaku tersebut di lingkungan kerja ? Apalagi yang melakukan itu rekan kerja kita. Sudah pasti kita merasa dongkol atau kecewa. Biasanya orang yang berprilaku seperti itu menurut pengalaman yang saya alami mempunyai sifat sedikit penjilat atau cari muka. Tapi memang sesungguhnya ada orang seperti itu, yang memang benar-benar mempunyai latar belakang yang memprihatinkan dalam perjalanan hidupnya. Orang seperti itu biasanya mempunyai semangat kerja yang tinggi dan loyal terhadap perusahaan tanpa harus menghiba atau memohon belas kasian.

Untuk orang yang gemar menjual kesedihan di depan atasanya dengan maksud mendapatkan simpati ini yang bisa digolongkan “cari muka atau penjilat”. Dia selalu bercerita tentang perjalanan hidupnya yang mengenaskan baik itu masa kecil, keluarga hingga dikhianati teman. 

Rasullullah SAW bersabda, “Menjilat bukanlah termasuk karakteristik moral seorang mukmin.” (Kanzul Ummat, hadits 29364). Budaya menjilat bukan budaya seorang mukmin. Bahkan, sebenarnya budaya ini lebih dekat pada karakter seorang munafik.

Seorang penjilat sejatinya sedang membohongi dirinya sendiri. Apa yang dilakukannya berlawanan dengan lubuk hatinya yang paling dalam. Ia rela melakukan apa saja secara berlebihan demi mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang yang dijilatnya. Biasanya yang menjadi korban penjilat adalah mereka yang tergolong mapan dan superior, seperti atasan, pimpinan, pemegang kekuasaan dan keputusan.

Sebagaimana kisah tersebut, Yunus bin Ya’qub menjilat pemimpin agamanya, agar dengan cara itu ia mendapatkan pengakuan ketaatan dan ketulusan dari pemimpinnya. Namun, sayangnya, ia berhadapan dengan seorang pemimpin yang bukan hanya tidak mau dijilat, tapi juga melarang segala bentuk penjilatan.

Lalu mengapa Islam melarang budaya menjilat?? Menjilat adalah salah satu bentuk kehinaan. Padahal, Islam datang menjunjung tinggi kemulian dan kehiormatan manusia. Sedangkan penjilat berusaha menghinakan dirinya dan merobohkan harkat dan martabat manusia yang dibangun Islam.
Terkadang, budaya menjilat ini timbul karena kesalahpahaman terhadap makna dan pengertian tawadhu (rendh hati). Misalnya, seorang bawahan merasa perlu memuji atasannya setinggi langit demi menunjukkan loyalitasnya terhadap sang atasan. Ironis sekali kalau sang atasan mengangguk-anggukkan kepalanya alias mengamini dengan berbagai pujian itu. Sementara hal yang dijadikan bahan pujian bawahannya itu sebenarnya tidak terjadi.

Dengan demikian, atasan ini telah membiarkan kebohongan dan kepura-puraan terhadap dirinya terus berlangsung. Sesuatu yang tidak ada pada dirinya terus berlangsung. Sesuatu yang tidak ada pada dirinya dikatakan ada. Bukankah ini dusta yang besar?? Bukankah ini hal yang terlarang. Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, ”Memuji lebih dari yang seharusnya adalah penjilatan.” (Nahjul Balaghah, hikmah 347). Karena itu, hindari sejauh mungkin segala tindakan yang menjurus ke arah penjilatan.
Makanya bagi sobat-sobat semua tidak usah berprilaku munafik, biarlah apa adanya Alloh tau semua isi unek-unek dalam hatimu, kalau seperti itu namanya para sobat kurang bersyukur..seperti firman Alloh SWT..

“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).” (QS.27:73)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

Lagian kalau kita mendapatkan rejeki dengan cara menjelek-jelekan rekan kita atau dengan prilaku buruk Alloh punya pesan dalam firmanya,

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS. 2:172)

Dan apabila para sobat menjadi bos berprilakulah yang bijak jangan termakan dengan rayuan bawahanmu yang penuh kebohongan.. Tentunya sebagai pimpinan taulah karakter masing-masing bawahan. Gunakan naluri dan instingmu…

Sabtu, 01 Februari 2014

Berteman Dengan Orang yang Selalu CARI MUKA

Dalam lingkungan kerja pasti ada aja prilaku rekan kerja kita yang mempunyai sifat penjilat. Kita sangat dibuat jengkel dengan ulahnya. Kadang baik, tapi tak jarang juga menjatuhkan tanpa tahu sebabnya.

Beragam orang berarti beragam pula karakter yang akan kita temukan. Begitu pula dalam dunia kerja. Tuntutan perusahaan tidak jarang membuat satu karakter dengan karakter yang lain sulit dipertemukan. Padahal agar kita dapat bekerja secara tim, kita harus saling mengenal dan beradaptasi dengan karakter rekan kerja kita. “Setiap individu itu unik, agar kompak kita juga harus bisa menyesuaikan diri kita dengan lingkungan.

Tidak dapat dipungkiri,terkadang dalam sebuah kinerja terdapat karakter yang menguras emosi kita. Misalkan, karakter orang yang selalu “mencari muka” dan ingin menang sendiri.  Orang seperti itu mempunyai sifat suka menjatuhkan teman, baik secara diam-diam atau bahkan blak-blakan.

Bagi orang yang kurang smart, menjatuhkan rekan kerja yang dianggap saingan dilakukan secara terang-terangan, yaitu langsung ngoceh di depan atasan tentang kesalahan ataupun kekurangan kita. Cara itu akan membuatnya sedikit lega karena telah berhasil “cari muka” di depan si bos. Sifatnya yang selalu mencoba menonjolkan diri secara terang-terangan, membuat kita lebih mudah mengenal siapa dia.

Rekan kerja yang punya hoby menjatuhkan teman disebabkan karakter yang sudah melekat. Atau mungkin sikap itu muncul karena adanya kesempatan ataupun keterpaksaan akibat ketatnya persaingan. Mereka cenderung ingin mendapatkan hasil segera (bisa jadi kurang tekun dan gigih). Rasa kurang percaya diri dan iri melihat kemampuan lebih rekan lain bisa jadi yang memicu seseorang untuk melakukan tindakan tidak kompetitif itu. ”Pastinya, dia tidak mampu bersaing secara sehat sehingga dia memilih jalan itu.

Dalam bekerja, komunikasi yang baik dan terbuka terhadap masukan/feedback baik dari rekan kerja ataupun atasan perlu dikembangkan. Kalaupun muncul kondisi lingkungan kerja yang saling menjatuhkan, itu karena iklim di perusahaan yang kurang kondusif. Semua itu tidak akan tenjadi jika pimpinan bisa mengenali anak buah dengan baik, yaitu dengan memberi feedback untuk setiap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak buah serta memberikan kesempatan untuk memperbaikinya. Selain itu, adanya kejelasan kebijakan kriteria karyawan yang baik dan kapan kenaikan pangkat/gaji dapat menghindarkan munculnya sikap saling menjatuhkan.

Tidak perlu menguras energi dan emosi, jika kita terpaksa berhadapan dengan orang yang hoby menjatuhkan. Bagaimanapun jika kita optimal mengerjakan segala sesuatunya dan hubungan kita dengan rekan kerja baik, orang juga akan tahu siapa yang benar dan siapa yang salah" katanya. Jadikan itu sebagai pengalaman, mungkin saja dan kejadian tensebut kita menemukan kekurangan kita yang ternyata dianggap sebagai hal penting olehnya.

Jika kebenaran telah ditegaskan akan menjadi kemenangan yang abadi, jangan ragu untuk tetap bertahan. Nah, kalau memang kita terpaksa harus berhadapan dengan sosok orang yang hoby bersaing secara tidak kompetitif, tidak perlu membuat kita meninggalkan prinsip kita dan menyerang balik lawan kita. Tetaplah kita menjadi diri kita sendiri dengan tetap berprinsip professional, tenang jangan terpancing emosi. Dan harus berani mengkrarifikasikan secara personal dengan atasan atau mungkin rekan kerja di mana teman Anda itu berusaha menjatuhkan secara personal dengan bahasa yang netral tanpa berusaha untuk menjatuhkan kembali. Yang terpenting langsung tanyakan ke orang yang ingin menjatuhkan anda dengan baik baik, apakah ada masalah antara dia dengan Anda yang muncul tanpa disadari. Mintalah dia untuk terbuka dan jangan ragu meminta maaf jika Anda telah menyinggung perasaannya. Yang terpenting jangan jadikan musuh atau meminta orang lain untuk memusuhi, tetap jaga hubungan baik. Itu baru orang hebat….