Saya menulis sesuai apa yang saya liat semoga jadi acuan untuk saling mengingatkan, menasehati antara kita, sehingga akan banyak kita peroleh hikmah dan manfaat dalam kehidupan. Walau kadang nasehat terasa meyakitkan kalau itu mengena pada diri kita dan sekiranya itu baik ambillah
Sering kita picik, terkungkung dalam tembok yang
sempit ketika menghadapi cobaan, menganggap ini adalah akhir. Padahal jika kita
telaah lebih jauh, mungkin Alloh SWT sedang mempersiapkan sesuatu untuk kita.
Sesuatu yang terbaik untuk kita, bukan yang menurut kita baik. Sesuatu itu bisa
sekarang, bisa juga nanti.
Saya sangat bersyukur di lahirkan dari seorang
wanita Muslim dan mempunyai Orang Tua yang taat ibadah dan di kelilingi oleh
saudara-saudara muslim yang taat pula. Dan ketika mendapat musibah seberat
apapun saya tidak merasa sendiri.
Beberapa hari terakhir ini pun aku mengalami apa
yang sudah menjadi ketetapan Allah, sebuah ujian. Ujian mengenai seberapa besar
rasa cintaku padaNya, sebuah ujian tentang tawakal dan kesabaran, sebuah ujian
mengenai selalu berhusnudzon padaNya.
Ya Allah, aku yakin, engkaulah pengatur hidup
hamba. Karena itu, hamba percaya bahwa apapun yang menimpa hamba saat ini
adalah bagian dari rencanaMu yang pasti berbuah kebaikan bagi hamba. Aamiin.
Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk
mengatasi kegundahan hatinya. Secara pribadi, saya lebih menyenangi cara
mengatasi kesedihan itu dengan mencoba menjadi lebih berguna bagi orang lain.
Salah satunya adalah dengan menyemangati orang lain, ini bukan sok munafik tapi
lebih kepada usaha melawan tekanan batin. Entahlah, ketika akhirnya bisa
membuat orang tersenyum dan bersemangat, bisa menjadikan diri ini semangat
pula.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
“Siapa saja yang terasa berat ketika menghapi
musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku. Ia akan merasa ringan menghadapi
musibah tersebut.”[2] Ternyata, musibah orang yang lebih sholih dari kita
memang lebih berat dari yang kita alami. Sudah seharusnya kita tidak terus
larut dalam kesedihan.
Salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam- berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu
musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un.
Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa.
[Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan
kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku
dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran
dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” Ketika, Abu Salamah
(suamiku) wafat, aku pun menyebut do’a sebagaimana yang Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik
dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[10]
Do’a yang disebutkan dalam hadits ini semestinya
diucapkan oleh seorang muslim ketika ia ditimpa musibah dan sudah seharusnya ia
pahami. Insya Allah, dengan ini ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik.
Saya menghibur diri sendiri ketika kehilangan,
ketika menyesal, ketika kecewa. Meskipun itu tidak akan bisa merubah keadaan,
tapi setidak-tidaknya itu membuat saya lebih baik_kadang-kadang. Membuat saya
berusaha menggali sisi positif dari hal-hal buruk. Karena kekerdilan jiwa kita
yang terkadang memaknai cobaan sebagai musibah, bukan sebagai pembelajaran,
bukan sebagai pembuka anugerah.
Maaf bukanya saya sok jago tapi yah itulah saya sendiri bingung mengartikan
diriku sendiri untuk yang ini…
Sobat pernahkan kamu merasa kalut hatinya hancur
perasaanya, bingung harus berbuat apa dan bagimana ?. Akibat menghadapai fakta
yang pilu atau merasa “habis” karena apa yang kamu usahakan dan impikan kandas
di tengah jalan tanpa menyisakan hasil yang maksimal? Pergilah sudah segala asa
yang pernah membumbung tinggi di angkasa. Berganti dengan keterpurukan yang
tidak berkesudahan?
“Ya sudahlah….” Itulah mungkin pesan yang pernah
kamu dengar. Tapi, apakah sedangkal itu kita akan menghadapi hidup ini? Hidup
ini butuh keringat, kesungguhan, dan juga air mata. Butuh energi untuk berlari
dan melesat lebih baik lagi. Bila kini jatuh, maka sadarlah bahwa ini adalah
awal untuk mendewasakan hidup. Bila merasa ditinggalkan, ingatlah bahwa hidup
ini belum seberapa dibandingkan ujian hidup yang sebenarnya.
Yah….bulan ini adalah bulan yang terburuk yang ku
alami. Tetapi saya tidak boleh cengeng saya harus bangkit dan menatap jauh ke
depan Alloh punya rencana baik buat saya. Saya tidak butuh pelarian, tidak pula
butuh pelampiasan. saya hanya butuh kembali pada Allah. Menikmati setiap masa
kebersamaan dengan-Nya dan kemudian merasa nyaman saat beribadah kepada-Nya.
Usia yang masih cukup tidak akan menghalangi
keinginan untuk menjadi dewasa. Saat jatuh tidak membutuhkan uluran tangan menuju
kemaksiatan. Atas nama membalas dendam terhadap nasib yang menimpaku. dan juga
tidak perlu memaki-maki siapa saja yang ku anggap bertanggung jawab terhadap
hidupku. Juga tidak perlu menganggap Allah tidak adil, karena telah mengambil nasib
baikku . Saya hanya perlu lebih bersyukur atas nikmat yang ku dapat. Jangan sampai
larut dalam kesedihan yang menyengsarakan.
Hidup ini adalah pembuktian kata-kata. Kalau saat
ini sedih, terluka dan terbuang, maka itu adalah awal dari proses perbaikan.
Berdirilah tegap menghadapi masalah yang menimpa. Jangan pernah merasa sendiri
dan ditinggalkan. Karena Allah tidak akan meninggalkan sendirian. Saya hadapi
dengan semangat hidup yang baik. Pelajari setiap pengalaman hidup yang telah kualami.
Jadikanlah itu sebagai cara terbaik untuk bersikap positif. Karena jalan ini
memang masih panjang. Usia belum terlalu uzur, tak seharusnya mudah putus asa.
Bijaksana dalam bersikap adalah sebuah pilihan yang terbaik. Daripada
berpikiran pendek dan mendahulukan nafsu dan ego pribadi di berbagai
kesempatan.
Lihatlah anak-anak muda di generasi terdahulu,
seperti Musa muda yang sangat tabah dalam hidupnya. Kecil dihanyutkan di sungai
dan akhirnya menjadi keluarga istana. Hingga akhirnya dia harus berdakwah dan
berjuang demi membela agama-Nya. Lihatlah si kecil Muhammad saw yang dengan
gigih mengobarkan semangat perjuangan untuk tegaknya Islam.
Saya harus mengganti kesedihan dengan kebahagiaan
dari Rabb-mu. Dengan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang luar biasa.
Rejeki yang tiada terkira. Jangan hanya menganggap rejeki cuma sebatas uang.
Teman, sahabat, keluarga adalah rejeki yang tiada terkira besarnya. Syukurilah
itu semua, maka kita akan menjadi Orang yang lebih bahagia dari sebelumnya.
Jangan kecut, jangan ciut, semangat harus bangkit dari kesedihan. Karena malam
tidak akan selamanya malam. Pasti ada pagi dengan mentari yang bersinar terang.
Itulah sedikit curahan hati kita mengalami
kegagalan…
Saya merenung,
sebentar lagi saya menginjak usia 40 tahun pikiranku menerawang jauh ke tempat
yang tidak jelas arahnya. Dalam benak saya apa yang telah saya dapat di usia
tersebut untuk ukuran kesuksesan dunia relatife, minimal cukup tidak mengalami
kesulitan material, untuk ukuran agama ? saya hanya diam merenung…. Apakah ini bentuk frustasi
saya karena masalah pekerjaan yang sangat tidak menentu ? tapi saya anggap itu
hal biasa.
Andai jatah hidup saya
60 tahun, berarti sisa hidup saya sangatlah sedikit. Duh! Betapa singkatnya
hidup ini. Jika demikian, betapa tidak akan terasa menjalani sisa hidup yang
lebih pendek lagi; 20 tahun, 12 tahun, 2 tahun, atau malah cuma dua hari lagi.
Kalau selama ini di habiskan hanya untuk keperluan dunia dari fajar hinggi terbenamnya
matahari atau bahkan lebih. Dan selebihnya untuk mencari bekal akherat kelak,
itupun tidak selalu rutin, oh.. celakalah saya..
Usia 40 tahun banyak
orang menganggap usia yang matang dan batas seseorang untuk memperoleh
kesuksesan. Di usia tersebut manusia telah menjalani setangah perjalanan hidup
yang di gariskan. Seandainya di usia tersebut hidup seseorang masih biasa biasa
saja berarti orang tersebut bisa di sebut gagal, tetapi seandainya orang
tersebut mendapatkan materi yang lebih dari cukup berarti secara dunia orang
tersebut mengalami kesuksesan. Demikian juga dengan untuk urusan Agama, apa
yang telah di dapat dari usia 40 tahun tentang urusan Agama (akherat) ? yang
tau hanya kita sendiri.
Mengapa umur 40 tahun begitu penting? Dalam tradisi Islam, usia manusia diklasifikasikan menjadi 4
(empat) periode, yaitu 1) periode kanak-kanak atau thufuliyah, 2) periode muda atau syabab, 3) periode dewasa atau kuhulah, dan 4) periode tua atau syaikhukhah. Periode kanak-kanak itu mulai lahir hingga baligh, muda mulai dari usia baligh sampai 40 tahun, dewasa
usia 40 tahun sampai 60 tahun, dan usia tua dari 60-70 tahun.
Dengan
demikian usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa
mudanya dan beralih menapaki masa dewasa penuh yang disebut dengan usia dewasa
madya (paruh baya) atau kuhulah. Pakar psikologi Elizabet B.
Hurlock, mengatakan “masa dewasa awal”
atau “early adulthood” terbentang sejak tercapainya kematangan secara hukum
sampai kira-kira usia 40 tahun. Selanjutnya adalah masa setengah baya atau
“middle age”, yang umumnya dimulai pada usia 40 tahun dan berakhir pada usia 60
tahun. Dan akhirnya, masa tua atau “old age” dimulai sejak berakhirnya masa
setengah baya sampai seseorang meninggal dunia.
Kejiwaan
pada usia 40 tahun ini adalah meningkatnya minat seseorang terhadap
agama (religiusitas dan spiritualisme) setelah pada masa-masa
sebelumnya minat terhadap agama itu boleh jadi kecil sebagaimana diungkapkan
oleh banyak pakar psikologi sebagai “least religious period of life”.
Maka
patutlah jika usia 40 tahun tertulis dalam al-Qur’an. Dan karenanya, tidaklah
heran jika para Nabi diutus pada usia 40 tahun. Nabi Muhammad saw. diutus
menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga dengan nabi-nabi yang lain,
mereka diutus menjadi nabi ketika usia mereka genap 40 tahun. kecuali Nabi Isa
as. dan Nabi Yahya as.
Di
beberapa negarapun, untuk menduduki jabatan-jabatan elit yang strategis,
seperti kepala negara, disyaratkan harus telah berusia 40 tahun. Seperti,
Soekarno menjadi presiden pada usia 44 tahun. Soeharto menjadi presiden pada
umur 46 tahun. J.F. Kennedy 44 tahun. Bill Clinton 46 tahun. Paul Keating 47
tahun. Sementara Tony Blair 44 tahun.
Keistimewaan usia 40 tahun tercermin
dari sabda Rasulullah saw.,
Seorang hamba muslim bila usianya
mencapai empat puluh tahun, Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan
amalnya). Jika usianya mencapai enam puluh tahun, Allah akan memberikan
anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepada-Nya. Bila usianya mencapai
tujuh puluh tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika
usianya mencapai delapan puluh tahun, Allah akan menetapkan amal kebaikannya
dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai sembilan puluh
tahun, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang
belakangan, Allah juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya,
serta Allah akan mencatatnya sebagai “tawanan Allah” di bumi. (H.R. Ahmad)
"Sehingga
apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah
Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat
amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi
kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan
sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri"." (QS.
Al-Ahqaf: 15).
Ayat di atas mengisyaratkan, seseorang
yang sudah mencapai umur 40 tahun berarti akalnya sudah sampai pada tingkat
kematangan berfikir serta sudah mencapai kesempurnaan kedewasaan dan budi
pekerti. Sehingga secara umum, tidak akan berubah kondisi seseorang. Saat sudah
menginjak usia 40 tahun hendaknya seseorang mulai meningkatkan rasa syukurnya
kepada Allah SWT juga kepada orang tuanya.
Nah bagi kita kita yang sebentar
lagi atau sudah atau mungkin juga telah melampaui usia tersebut, sudah
sepantasnyalah intropeksi diri, apa yang telah kita capai diusia 40 tahun. Jangan
lantas bangga atau bahkan merasa rugi karena belum mencoba merasakan bermacam
kemaksiatan yang ada di dunia. Justru harusnya digenjot lagi untuk selalu
beramal sholeh, untuk bekal nanti dari kehidupan selanjutnya.. sory bukan gue
sok jago….
Hidup
yang paling menyedihkan adalah ketika di rendahkan oleh orang lain apalagi
orang yang merendahkan tersebut adalah teman dekat kita. Kita boleh tetap
berharap agar tidak pernah sampai mengalaminya sampai kapanpun. Tapi itu
bukan jaminan bahwa kita suatu saat nanti tidak mengalami penghinaan atau di
rendahkan orang lain.sebelum itu terjadi akan lebih bijak kalau kita udah
mempersiapkan diri lebih awal.
Yang
terpenting sebelum itu terjadi kita harus mempunyai kepercayaan diri yang luar
biasa pedenya, tetapi kadang kita tidak selalu berada dalam posisi seperti itu.
Apalagi kalau melihat orang lain yang luar biasa sempurnanya. Seperti pepatah
di atas langit masih ada langit.
Walhasil, selain berupaya keras untuk selalu berada pada posisi dan martabat
yang tinggi itu memang kita butuh sikap mental yang tepat untuk mengantisipasi
situasi yang tidak enak itu.
Ketika orang lain merendahkan kita, jangan sampai kita terpengaruh. Hati
merupakan titik terlemah mental kita. Jika kita sudah merasa sakit hati, maka
rasa sakit itu sulit sekali dicarikan obat penyembuhnya. Itulah sebabnya
mengapa kita masih ingat kepada orang yang menyakiti hati kita puluhan tahun
yang lalu. Orang yang menyakiti itu mungkin sudah meninggal. Tapi rasa sakit di
hati masih terasa sampai saat ini. Maka dari itu, langkah pertama setiap kali
berhadapan dengan orang yang merendahkan kita adalah; melindungi agar kalbu
kita tidak terpengaruh oleh perlakuan buruk mereka.
Kemudian
menjaga pikiran agar jangan sampai menyimpan memori itu. Biasanya, kita lebih
mudah mengingat kata-kata negatif orang lain daripada nasihat yang baik-baik.
Buktinya kita sering lupa pelajaran di sekolah, di ruang-ruang seminar, dan di
majlis taklim, maupun forum-forum keilmuan lainnya. Tapi, lain halnya dengan
kalimat buruk yang dikatakan oleh tetangga sebelah. Atau oleh atasan. Atau oleh
teman. Hanya satu kalimat buruk yang keluar dari mulut mereka. Namun kepala
kita bisa mengingatnya sepanjang masa. Oleh karenanya, langkah kedua setiap
kali berhadapan dengan orang yang merendahkan kita adalah; menjaga agar akal
kita tidak terpengaruh oleh perkataan buruk mereka.
Memang
kalau ngomong sangat gampang tetapi prakteknya sangatlah susah. Yang terpenting
Kita lebih baik daripada orang yang merendahkan kita itu!” Dengan demikian,
maka perlakuan buruk mereka bisa menjadi motivasi bagi kita untuk membuktikan
bahwa kita memang lebih baik daripada mereka yang merendahkan kita. Tapi awas
jangan berlebihan yang mengakibatkan kita berlaku sombong dan congkak. Seperti ungkapan
“Dulu kamu merendahkan saya. Sekarang sudah saya buktikan kalau saya lebih baik
dari kamu!”
Ingat…!!!
Campur tangan Iblis,… pada awalnya hanya memiliki satu kelemahan, bernama;
kesombongan? Makanya, Iblis paling senang kepada orang yang gigih berjuang
karena pernah direndahkan, lalu berhasil bangkit dari keterpurukan, kemudian
bisa menunjukkan kepada orang yang pernah merendahkannya. Rasa dendam yang
berlebihan karena pernah di hina.
Kenapa
kita mesti sakit hati karena direndahkan oleh orang yang tidak lebih baik dari
kita? Kenapa pikiran kita mesti dikotori oleh perkataan-perkataan orang yang
tidak lebih sempurna dibandingkan kita? Dengan begitu, kita bisa tetap
melindungi hati dari rasa sakit yang tidak perlu. Sekaligus menjaga kebersihan
akal agar tidak sampai memikirkan teknik dan strategy untuk membalas dendam.
Sehingga kita bisa terhindar dari kemungkinan menjadi pengikut Iblis tanpa kita
sadari.
Rasulullah
pun mengingatkan kita bahwa Tuhan secara tegas melarang perilaku merendahkan
orang lain. Boleh jadi, orang yang direndahkan itu lebih baik daripada orang
yang merendahkannya. Itu baru ‘boleh jadi’ lho. Belum mutlak. Mengapa baru
sebatas ‘boleh jadi’? Karena ukuran apakah seseorang yang direndahkan itu
benar-benar lebih baik dari orang yang memperoloknya tidak semata-mata
ditentukan oleh keberhasilan orang itu untuk meraih kesuksesan yang lebih
tinggi dari orang yang merendahkannya. Melainkan juga ditentukan oleh sikap dan
perilaku terpujinya setelah berhasil meraih pencapaian tinggi itu.
Jika
dia mengikuti sifat Iblis, maka dia akan menggunakan kesuksesannya untuk
menyombongkan diri dihadapan mereka yang pernah merendahkannya. Namun, jika dia
mengikuti kemuliaan sifat Rasulullah, maka dia akan tetap menjadi pribadi yang
rendah hati meskipun hidupnya ditaburi dengan prestasi dan pencapaian yang
tinggi. Karena dia tahu, bahwa semua pencapaian itu tidak mungkin diraihnya
tanpa limpahan kasih sayang dari Ilahi. Sehingga setiap pencapaian, tidak
menghasilkan hal lain selain rasa syukur yang semakin mendalam. Pantesan…,
Tuhan kok semakin sayang kepada orang seperti itu, ya?
Suatu kenyataan yang tak dapat dipungkiri lagi, bahwa menjaga
kehormatan ini adalah hal yang terpenting untuk menjaga keharmonisan. Dan
sebaliknya menghina kehormatan atau martabat orang lain akan bisa menimbulkan
rasa saling membenci, perpecahan dan hilangnya rasa kebersamaan. Oleh karena
itu, Islam menganggap bahwa setiap hal yang menyentuh kehormatan orang lain
termasuk perbuatan dosa yang harus dijauhi oleh orang-orang yang beriman. Di antara
hal-hal yang masuk dalam kategori menghina martabat orang lain ialah : menghina
orang lain, menuduh dan memberi julukan yang dibenci olehnya, jelek sangkaan,
mengintai dan membicarakan perihal orang lain di kala orang tersebut tidak
ada.
Allah melarang suatu golongan mengolok-olok golongan lainnya.
Perbuatan ini amatlah dicela karena timbul dari rasa kagum terhadap diri
sendiri yang sekaligus menghina orang lain. Sifat ini akan dapat mengakibatkan
hal-hal yang bisa menimbulkan permusuhan antara teman.
Norma-norma yang dipakai oleh kalangan lelaki dan kalangan
wanita, pada hakekatnya adalah serupa dengan fatamorgana yang sering menipu
pandangan mata atau orang-orang yang berpikiran dangkal. Bisa saja terjadi
orang yang cantik menghina orang yang jelek, yang kaya menghina yang miskin dan
yang muda menghina yang tua, tetapi norma-norma semacam ini bukanlah hakikat
yang sebenarnya. Selain dari itu norma-norma tersebut bukanlah indikasi bagi
ukuran terhormat atau tidaknya seseorang. Adapun norma-norma yang sebenarnya
dan yang dijadikan indikasi dalam merendahkan dan meninggikan derajat seseorang
adalah norma-norma yang ada dalam jiwa seseorang, dan takkan bisa dilihat
kecuali oleh Allah SWT.
Perbuatan mencela orang lain sudah merupakan ciri khas zaman sekarang.
Anda tentu pernah membaca di beberapa surat kabar, seorang tokoh politik
mencela tokoh lainnya dan semua orang-orang yang mendukungnya. Tiada lain,
maksud yang terkandung dalam hatinya ialah ingin memperoleh ketenaran dengan
menjelek-jelekkan orang lain. Dan ada sebagian orang lagi menggunakan “sarana”
mencela orang lain hanyalah untuk melampiaskan rasa dendamnya yang sudah
mematri dalam hatinya terhadap orang yang dicela.
Teringat ketika saya masih bekerja di suatu rumah sakit
sewasta yang lumayan keren.. teman saya dimaki dan dan hina oleh atasanya dengan
rasa penuh kebencian hanya karena persoalan sepele. Kalau di pikir secara
logika sangat tidak pantas di ucapkan oleh seorang pimpinan.
Arti mengumpat mungkin adalah,
seseorang menuturkan sesuatu yang kurang disenangi yang berkaitan dengan
pribadi temannya. Penuturannya itu bisa secara blak-blakan ataupun secara
sindiran; baik yang dituturkannya itu bertalian dengan masalah agamanya atau
kepribadiannya, semuanya sama saja. Perlu diperhatikan, pengertian mengumpat
bukan saja ketika orang yang bersangkutan tidak ada, tetapi bisa juga ketika ia
berada di depan orang yang membicarakannya. Hal ini pun masuk dalam pengertian
mengumpat.
Rasulullah dalam menanggapi masalah
mengumpat ini memberikan penjelasan dalam salah satu sabdanya :
“Apakah kamu tahu artinya ghibah
(mengumpat)?”. Para sahabat menjawab : “Allah dan Rasul lebih mengetahui hal
itu.” Kemudian Nabi SAW bersabda : “Engkau menuturkan perihal saudaramu yang
tidak ia senangi”. Salah seorang sahabat menanyakan : “Barangsiapa jika yang
kututurkan mengenai saudaraku itu benar-benar?”. Beliau menjawab : “Apabila apa
yang kau tuturkanitubenar, berarti engkau telah membicarakannya (mengumpatnya),
dan apabila apa yang kau tuturkan itu sebaliknya, maka engkau telah berkata
bohong mengenai dirinya.( Hadits riwayat Muslim, Abu Daud, Turmudzi dan An
Nasa’i)”
Perbuatan mengumpat adalah perbuatan yang paling jelek dan
dapat mengeruhkan keintiman persahabatan. Karena rasa persahabatan ini hanya
bisa dipupuk dengan saling mempercayai yang timbul dari hati yang ikhlas,
kemudian dipraktekkan dalam bentuk saling menghormati, bermuka ramah dan
berkata jujur. Adapun perbuatan mengatakan perihal orang lain sewaktu ia tidak
ada dan perkataannya itu menyinggung kehormatannya, maka hal ini akan dapat mengeruhkan
keintiman persahabatan.
Makanya yuk kita jalin silahturahmi kesesama orang jangan
melihat siapa dia, tetapi sebesar apa kelebihan dia yang patut untuk kita
ikutin…
Facebook
ini ibarat seperti sebuah pisau, bisa bermanfaat bila digunakan untuk hal-hal
bermanfaat tetapi juga bisa membawa bahaya. Facebook bisa digunakan sebagai
wadah silaturahmi di dunia maya, berdakwah, menimba ilmu, dan sebagainya. Tapi juga,
sebaliknya Fecebook juga bisa digunakan sebagai ajang maksiat.
Dengan
berkembangnya Teknologi informasi yang melahirkan bermacam – macam bentuk
Jejaring Sosial diantaranya Facebook ini, banyak manfaat yang bisa kita ambil
diantaranya :
Sebagai
sarana dakwah Facebook bisa digunakan sebagai sarana dakwah yang bagus di
tengah keringnya ilmu dan informasi tentang Islam yang benar, sehingga betapa
banyak orang mendapatkan hidayah disebabkan membaca artikel di Facebook atau
diskusi di Facebook.
Wadah
silaturrahmi Facebook bisa digunakan sebagai wadah untuk menyambung
silaturrahmi antara sesama teman, orang tua, kerabat, murid, atau guru dan
ajang untuk menceri kawan lebih banyak lagi yang itu hukum asalnya adalah
boleh-boleh saja.
Menyimpan
file/tulisan Tulisan yang disimpan di komputer bukan tidak mungkin akan hilang
saat komputer terkena virus. Akan tetapi, jika disimpan di Fecebook, maka file
tersebut tetap akan selamat selama account masih aktif.
Dan
Facebook dapat digunakan sebagai alat pemasaran bagi yang hobi bisnis,
meningkatkan kepercayaan diri karena dapat memajang foto-foto narsinya..
Tentunya
Fecebook juga bisa menjadi buruk bagi penggunanya diantaranya:
Kecanduan
Banyak dari pengguna Facebook merasa asyik berbalas atau chatting, sehingga
mereka menjadi lupa pada waktu, tugas kewajibannya, bahkan ada yang sampai
dibuat lalai dari aturan agama gara-gara kecanduan Facebook.
Wadah
maksiat Banyak dari para pengguna Facebook tidak mengindahkan aturan agama
sehingga menjadikan Facebook sebagai wadah maksiat, berupa ghibah, fitnah,
gosip, pacaran, dan sebagainya.
Gambar
foto Di antara wabah Facebook yang sangat perlu diperhatikan adalah budaya
menampilkan foto-foto pribadi yang jelas akan dilihat banyak orang, bahkan
tekadang yang ditampilkan adalah foto-foto seronok setengah bugil yang
mengumbar nafsu maksiat. Karena itu, bagi para pengguna Facebook hendaknya menampilkan
foto-foto yang elegan sopan atau dengan memajang foto-foto lain yang tidak
bermasalah seperti pemandangan alam atau sejenisnya.
FACEBOOK,
HALAL ATAU HARAM ?
Saya masih ingat ketika awal booming-nya Facebook menuai kontroversi di kalangan para tokoh
agama, terutama di kalangan ulama Jawa Timur. Sehingga pernah diberitakan sebagian
pondok pesantren se-Jawa Timur dan Madura yang tergabung dalam Forum Komunikasi
Pondok Pesantren Putri mengharamkan pemanfaatan Facebook secara berlebihan
seperti mencari jodoh maupun pacaran. yang pembahasanya waktu itu di Pondok
Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, Kediri, Jatim. Namun, fatwa ini
akhirnya menuai protes dari para tokoh moderat, bahkan ada sebagian kalangan
menilai bahwa fatwa tersebut “kolot” dan “ketinggalan zaman”.
Facebook
hanyalah sekedar sebuah alat saja, bukan haram secara zatnya, namun semua itu
tergantung pada penggunaannya. Fatwa para tokoh yang melarangnya seharusnya
kita ambil manfaatnya yaitu agar penggunaan Facebook bukan untuk kemaksiatan
melainakan harus diarahkan kepada yang positif, karena apabila digunakan untuk
pamer aurat maka Facebook berubah menjadi haram.
Tentu
saja, Facebook adalah termasuk masalah kontemporer yang tidak ada dalilnya
secara khusus. Namun,bila di perhatikan dengan seksama bisa di temukan beberapa
argumentasi yang menunjukkan hukum asal penggunaan Facebook adalah boleh,
setidaknya ada dua kaidah yang bisa kita
terapkan untuknya:
1.
Asal segala urusan dunia hukumnya boleh
bahwa
asal semua urusan dunia adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya dan asal
semua ibadah adalah terlarang sampai ada dalil yang mensyari’atkannya.
Banyak
sekali dalil al-Qur’an dan hadits yang menunjukkan kaidah berharga ini, bahkan
sebagian ulama menukil ijma’ (kesepakatan) tentang kaidah ini Cukuplah dalil
yang sangat jelas tentang ini adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam:
“Apabila
itu urusan dunia kalian maka itu terserah kalian, dan apabila urusan agama maka
kepada saya.”
Bila
ada yang mengatakan, “Bagaimana apabila alat dunia tersebut ditemukan oleh
orang nonmuslim?” Jawabnya: Sekalipun begitu, bukankah Rosulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dahulu menerima strategi membuat parit sebagaimana usulan
Salman al-Farisi ketika Perang Khandaq?! Jadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam menerima strategi tersebut walaupun asalnya adalah dari orang-orang
kafir dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan bahwa stretegi
ini najis dan kotor karena berasal dari otak orang kafir. Demikian juga tatkala
shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, beliau meminta bantuan
seorang penunjuk jalan yang kafir bernama Abdullah al-Uraiqith. Semua itu
menunjukkan bolehnya mengambil manfaat dari orang-orang kafir dalam masalah
dunia dengan tetap mewaspadai virus agama mereka. Dalam hikmah Arab dikatakan:
Ambillah
buahnya dan buanglah kayunya ke api.
Maka
tidak selayaknya seorang hamba menolak nikmat Alloh tanpa alasan syar’i dan
tidak halal baginya untuk mengharomkan sesuatu tanpa dalil.
2.
Tergantung pada tujuannya
Ini
sangat penting dan berharga sekali bahwa dakwah, silaturrahmi, menimba ilmu,
dan lainnya merupakan tujuan yang mulia, maka segala sarana yang menuju kepada
tujuan tersebut hukumnya seperti tujuannya. Hal ini sama persis dengan hukum
menaiki pesawat terbang untuk berangkat haji, menggunakan bom, tank, dan
alat-alat canggih modern untuk jihad dan sebagainya; tidak diragukan tentang
bolehnya karena alat-alat tersebut merupakan sarana menuju ibadah yang mulia.
Kesimpulannya,
bahwa Facebook layaknya alat-alat teknologi lainnya seperti telepon, radio,
tipe, dan sebagainya, bisa digunakan untuk menimbulkan kerusakan akidah,
pemikiran, akhlak dan sebagainya tetapi ini tidak boleh hukumnya dalam
pandangan syariat. Dan bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Maka
seyogianya bagi kaum muslimin untuk memanfaatkan alat ini untuk hal-hal yang
positif dan bermanfaat bagi dunia dan akhirat agar dakwah Islam semakin
berkembang dan menyebar. Wallohu A’lam
Etika
Seorang Muslim ber-Facebook adalah jejaring sosial. Itu berarti kita hidup
dalam kawasan pertemanan dan pergaulan. Maka perlu etika-etika bergaul harus
diperhatikan :
Jadikan
sebagai ladang pahala. Hendaknya seorang yang masuk pada situs ini meluruskan
niatnya terlebih dahulu, dia benar-benar ingin menjadikan Facebook untuk
sesuatu yang bermanfaat sebagai ajang silaturrahmi, berdakwah, menimba ilmu,
dan sebagainya.
Mengatur
waktu. Hendaknya pengguna Facebook memahami akan mahalnya waktu. Janganlah ia
terjebak dalam kesia-siaan atau terlena keenakan chatting sehingga lalai dari
sholatnya, kewajiban, dan tugasnya di rumah atau tempat kerja.
Waspadailah
zina mata dan hati. Dalam Facebook akan di-pasting foto-foto pengguna Facebook
lainnya yang terkadang mereka adalah foto-foto lawan jenis. Tidak menutup
kemungkinan muncul nafsu birahi dengan melihatnya. Maka hendaknya kita takut
kepada Allah dan menyadari bahwa semua itu adalah ujian akan keimanan kita
kepada-Nya.
Jagalah
kata-kata. Janganlah kita merasa bebas menulis status atau komentar dan
kata-kata di Facebook. Pilihlah kata-kata yang baik dan menyenangkan. Jangan
menulis kata-kata yang kotor, fitnah, provokasi, gosip, ghibah (gunjingan), dan
sebagainya. Seorang muslim harus menjaga anggota tubuhnya dari hal-hal yang
dapat menodai keimanannya.
Mungkin
Cuma itu Catatanku tentang Facebook yang lagi tenar, siapa sih yang ga punya ?
Saya adalah termasuk orang pengguna yang aktif untuk saat ini Semoga apa yang tulisan
ini membawa manfaat bagi semuanya. Aamiin
Hati ini diciptakan Allah untuk menjadi tempat kebahagiaan hakiki.
Karena itu hati harus selalu dekat dengan Allah. Bila hati sudah terisi
dunia, Allah tidak mau mengisinya. Begitu pun cinta kepada manusia,
harus yang dapat mendekatkan kepada Allah.
Cinta kepada anak
istri dibolehkan sepanjang menjadi pengingat kepada Allah. Sebaliknya,
bila cinta kepada anak istri membuat lalai, berjarak, dan jauh dari
Allah, maka segera kurangi cinta itu. Cukuplah cinta sekadarnya saja.
Bagaimana pun, makhluk tidak boleh menjadi penghalang cinta kepada
Allah.
Jika kita merasa sudah bergaul dengan banyak orang,
namun hati merasa tidak nyaman dan terasa keras, ini sebenarnya gejala
bahwa Allah masih ingin dekat dengan kita. Tapi bila masih nyaman saja
bergaul dan berbincang dengan banyak orang, maka bisa jadi itu gejala
hijab dengan Allah.
Sebelum kita minta sesuatu, Allah sudah
sangat tahu kebutuhan kita. Karena memang Allah yang membuat
kebutuhannya. Tapi, Allah sangat menyukai hamba-Nya yang memohon,
berdoa dengan segala kerendahan. Berdoa dengan hati yang bersih, adalah
ciri dikabulkannya doa. Jika Allah ingin memberikan mustajab
(terkabulnya) doa, maka Allah juga akan memberikan kemampuan kepada
seseorang untuk berdoa dengan khusyu.
Ciri seorang ahli
ma’rifat adalah selalu merasa membutuhkan Allah. Tidak pernah merasa
tenang dan nyaman, bila bersandar kepada selain Allah. Bila mau bicara,
ia minta dituntun Allah. Selama bicara pun ia selalu berdoa, minta
diampuni jika khilaf. Bila sedekah, ia juga minta diberi keikhlasan.
Bila berjalan, minta dijaga pandangannya. Pokoknya, ia selalu minta
yang terbaik dari Allah. Sebaliknya, orang yang tidak kenal Allah,
jarang meminta kepada Allah. Ia merasa sudah tahu dan bisa berbuat
dengan ilmunya.
Orang yang ma’rifat juga sangat takut jika
tidak dibimbing dan dilindungi Allah. Kebahagiaannya justru dari
ketidaknyamanan karena takut kepada Allah. Karena baginya, kebahagiaan
sejati adalah bila takut dan harap kepada Allah semata.